Jul 28

Pada mulanya suatu pandangan antara seseorang adalah karunia yang sangat berarti.
Pandangan itu hanyalah efek bias antara simpati dan hormati yang tak lebih bersifat pada saling mengagumi.

Kagum pada gaya bicara, gaya perilaku ataupun gaya berekspresi dan namun kadang itu menjadi bumerang pada sikap seseorang itu sendiri, senjata makan tuan.
Bumerang itu sendiri di sebabkan oleh tingkah yang di buat-buat atau tidak pada dekorasi ruang itu sendiri.

Bermacam gaya dan tingkah seseorang sangat dominan dengan peragai yang mereka punyai.
Jangan sampai anda bertingkah seperti monyet di area keagamaan dan itu akan membuat anda menjadi samsak oleh banyak umat, di gebugin.

Dan juga jangan anda bertingkah seperti mandor proyek di area demontrasi sebab anda akan di bekuk yang di karenakan dianggap biang rusuh atau dianggap mandor biang kerok.
Nah! Jika anda saling mengagumi maka jangan di salah tafsirkan sebagai ketertarikan pada gaya tipu daya itu sendiri, kesengsem.

Pada intinya kita sebagai manusia hanya menggemari apa yang kita idolakan dan apa yang kita anggap sangat asyik.
Sangat asyik disini banyak kriterianya dan itu mencakup banyak ruang yang tidak di kotak-kotakkan, I’m free.. free fallin’.

Kita akhiri segala bentuk rasa kagum di atas dan jangan di salah artikan bahwa kagum itu adalah mencintai atau rasa kagum itu ‘demen’ dan sangat ingin memiliki.

Deburan air hujan membasahi bumi dan jeritan para hewan amphibi menyerukan doanya pada sang dewa hujan, kwong.. kwungg..kungg..!
Sendal jepit terlihat terbawa arus berikut plastik-plastik yang mengotori genangan got tersebut.

Entahlah si empunya kemungkinan akan terperangah jika melihat sandal jepitnya hanya tinggal sebelah karena di ambil arus air, ‘lengit’ brow!
Kemudian pada sisi permukaan bumi tampak seorang pria yang sedang termenung dengan cigarrete menemaninya, ngelamun.

Lalu dari balik penghujan itu tampillah sahabatnya yang sering bertandang menemaninya lengkap dengan sekujur badan yang basah kuyub.

“Hello, brow..! Dar.. Der.. Dor..! Heheheh..?” sang sahabat mengagetinya sambil berlaga seperti ‘koboy cengeng’ lengkap dengan jari menyerupai ‘pestol aer’.

“Yaa Allah..? Ngapain ujan-ujanan lo..! Mau ngalap mangga Wak Simin lo yehh..! Laga lo kaya Jenggo, brow..? Huahahahaa..!” sang pria tercegang ples tercekat akibat ulah sahabatnya yang basah kuyub mirip ‘tikus got’ itu.

“Gue lagi demen mandi ujan neeh..! Biar ubun-ubun gueh adem..? Abis tiap hari bini gue ngomel mulu kaya burung be’o..? Numpang bilas yak..!” kini ia langsung ngeloyor dan mengotori rumah sang pria yang notabene ‘ngga punya pembantu’.

Itulah tindak tanduk sang sahabat yang kadang mampir ke rumah pria hanya melontarkan segala problematik bahtera rumah tangganya, pelampiasan.
Kadang jika sudah berumah tangga seorang suami kurang bisa menguasai medan tata berumah tangga.

Isteri sedang ingin di perhatikan, ingin di manja-manjakan atau ingin di gaplokin, maaf? Yang terakhir KDRT.
Pada dasarnya itulah peragai sang isteri dan sang suami justru tidak mengetahui gerak gerik sang isteri yang lagi ‘demen di manja-manjain’ dan akhirnya ‘nyerocos’ serta bekicaw melulu.

Beras habis, gas kosong serta rupiah tidak ‘gableq’ maka menjadi pemicu pertempuran dua hati menjadi satu itu, cek cok.

“Bukannya nyari duit malah molor lo yak..! Emangnya ada nyang nganterin makan untuk kita…? Pake otak lo donggg..?”

Begitulah kira-kira dan perkiraan dari omelan sang isteri kepada sang suami yang rezekinya berslogan ‘hari ini makan.. besok puasa”.
Atau rezekinya berslogan ‘hari ini puasa.. besok pas lebaran makan enak’ asyik tho!

Namun hanya diri kita saja yang dapat memanfaatkan suasana agar dapat menjinakkan hal-hal yang remeh itu, strategi.
Strategi yang bisa di kuasai dengan hati yang tenang agar tidak terjadi ‘perang mulut’ antara dua pihak, rukun.

Kini sang sahabat nampak sudah selesai membasuh diri dari ‘maen ujan’ dan terlihat sedang ‘menjembreng’ atau menjemur pakaiannya yang terlanjur basah.

“Numpang ngejembreng, brow yeh..? O iyeh.. Gue pinjem kolor lo dulu ampe pakeian gue kering, heheheh.. Kolor lo gatel, brow..??” sahabat mulai meledek sang pria sambil ‘begaya pembantu ngejemur’.

“Kurang asem lo yeh..! Udeh minjem banyak lagu lagi..? Ngomong-ngomong.. Bini lo ngomel gare-gare ape si..? Ngga pernah setoran kali lo ya..!” pria kembali menangkis ledekan sahabatnya sambil ‘garbol’.

“Beras abisss..! Gas kosongg..! Dompet kempess..! Ohh.. Tuhan sebegitu bencinya Engkau dengan hamba Mu iniii..!” sahabatnya mulai meratap sembari tangannya menengadah ke atas awan, pray for Allah.

“Huahahaha.. Bocorrr lo..!” sang pria ‘ngga tahan’ atas sikap sahabat yang bukan main ‘senga’ alias ‘ngeselin itu.

Life is real…! Dan sudah menjadi suratan atas ciptaannya kepada segenap manusia dan namun sebisa mungkin kita berjuang demi kelangsungan hidup itu sendiri.
Dalam artian itu sendiri kita hanya dapat terus.. terus dan terus beriman kepada Nya tanpa melihat buruk dan sengsara atas suratan Nya, tawakal.

Kemudian karena sikap sahabatnya yang familiar maka seperti biasa sang sahabat mulai ‘geratakan’ atau ‘mentakil’ alias rese.
Meja makan sang pria di acak-acak lalu tutup mangkok di buka-buka kemudian wadah nasi di ‘cowel-cowel’ seperti kucing dapur yang kelaparan.

“Wahh.. Paye lo, brow..! Isi meja lo.. ngga jau beda sama di rumah gue..! Miskinnn..!” sahabat sudah mulai kelaparan dan geram akibat sudah tak ada yang bisa di ‘lebok’ atau di makan.

“Ehh.. Nyong..? Kalo laper bikin ‘bubur gandum’ aja tuhh..! Pake susu kentel.. Zyaahh..! Pesti asyik dah!” pria menawarkan makanan berbeda pada sahabatnya yang ‘berlidah’ timur.

“Di mane-mane bubur itu dari nasi..! Kalo yang buatan orang barat.. Lidah gue belon nyampe, brow..? Mari bagi gue duit.. Gue mau beli nasi goreng ajah..!” dan sahabat pun mulai tidak sabar akibat cacing dalam lambungnya menggerogoti sel-sel lambung.

Begitulah sang sahabat yang susah beradaptasi dengan lingkungan ‘kebarat-baratan’.
Dan untuk semua yang berbau aneka macam makanan ia hanya cocok dengan ‘sayur asem ikan asin rica-rica’ untuk selebihnya ia lebih baik makan ‘nasi+garam’ saja, cacingan de lo!

Sang pria kini memberi sahabatnya lembaran rupiah untuk membeli ‘nasi goreng pete’ di ujung jalan dekat pepondokan sang pria.
Dan sepertinya sang sahabat kini bermalam di rumah sang pria yang di sebabkan ‘anak bini’ nya sudah diungsikan ke rumah mertuanya, nebeng.

Cahaya bola lampu kristal memancarkan sinar yang begitu indah kemudian seekor kunang-kunang menari-nari di pepondokan itu.
Tariannya lemah gemulai setara dengan kepakan sayapnya yang mungil dan itu suatu keindahan alamiah.

Sesaat sang pria memandang sahabatnya yang tertidur pulas di lantai dan bukan tidur di kasur busa pria.
Sepertinya sang sahabat lebih memilih tidur di lantai sebab itu menjadi kebiasaanya yang sejak lahir, orang planet.

~Peluklah aku dan genggam tanganku.. Jika ku jatuh nanti dengan sepenuh hati.. Sebab kadang bintangku tak terang.. ~
(Ari Lasso)

Seperti biasa tape recorder sang pria mulai bergeming menemani tidurnya hingga terbangun di fajar nanti.
Bagaimana dengan sahabat sang pria tersebut?

Pandangan pria kini tertuju pada posisi sahabatnya yang terlelap hanya memakai celana kolor kedodoran itu.
Saking kedodorannya maka terlihat benda yang sangat janggal dan bantet di balik kolor kedodoran itu.

Weqqzz..! D’Khulup Band.. friends..! :)

Jul 22

Matahari tiada bersinar sebab cahyanya tertutup tirai awan kelabu kemudian hawa sejuk memeluk semua penghuni bumi.
Penghuni bumi yang sangat mendamba atas cuaca yang mendukung rutinitas kehidupan itu sebab terik matahari tak membakar ubun-ubun otak kepala mereka.

Asa yang mengganjal, hati yang remuk redam dan perilaku yang arogan berkumpul dalam naruni masing-masing tanpa memilih ’siapa dia’, netral.
Itupun tergantung masing-masing dari mereka meng’handle’ sikon yang ada dan ataupun sebisa mungkin mereka menjauhkan keburukan asa yang mengganjal, doa.

Kemungkinan jika asa yang buruk itu berada pada area hati mereka maka dalam satu senggolan saja akan terjadi pergulatan fisik yang berbahaya, duel.
Salah ucap, menghina dan memancing emosi nurani menjadi acuan terjadinya percek-cokkan atau adu mulut tanpa di komandoi oleh masing-masing orang tentunya.

”Yang bener dong kalo jalan..! Punya mata ngga si..! Monyong lo..!”

Atau…

”Kurang kerjaan lo ya..! Orang lagi sibuk malah ngoprak-ngaprik dapur orang..! Setan lo..!”

Dan pada akhirnya…

Piring berterbangan, pisau melayang-layang dan bakiyak nempel di jidat setelah terlepas dari tangan si empunya.
Tapi dampak dari itu semua dapat teratasi dengan fikiran tenang, hati damai lalu dengan pendekatan persuasif tentunya.

Dari uraian di atas mungkin kita dapat memendam rasa emosi, amarah dan gundah apabila sesuatu yang sulit akan dapat teratasi dengan kepala dingin, dikasih es!
Tetapi adakalanya jika keadaan itu tak dapat di redam maka sebaiknya anda cepat-cepat membeli sarung tinju agar tidak patah tulang di buatnya, get in the ring!

Situasi ekstrim seperti itu sering di temui di berbagai area seperti terminal, stasiun kereta dan mungkin di anjungan tunai mandiri.
Segala macam bentuk pemancing emosi bertaburan di area tersebut maka lebih baik kita tidak banyak problema jika ingin bertandang kesana.

Sesabar yang anda punya dan jika berada di area tersebut pasti akan tersulut walau anda pura-pura tetap sabar.
Tak pelak seorang jenius dan seprofesor pun akan memberedel kata-kata yang tak senonoh jika hatinya di rudung emosi dan gelisah, di semprot.

”Saya ini S3..! Ngapain kamu parkir di sini..! Cepat pinggirkan mobil butut itu dari depan rumah saya..!”

Lalu…

”Kamu itu gembel..! Ngga pantes menggurui saya..! Saya ini Rektor bukannya tukang toge goreng..!”

Itulah kira-kira umpatan para yang merasa petinggi yang terpancing emosinya dan apakah S3 itu.. SD, SMP atau SMA dan atau S3 itu.. Sinting, Syarap atau Sedenk, entahlah.
Kadang kita mendengar ucapan yang tidak pada tempatnya itu jika amarah menggebu di dada terlampau penuh, over.

Dari segala hardik harduk yang tertera maka sebaiknya kita loncat saja ke proses yang lebih jelas dan tertata konfigurasinya, non formal.
Sejelas apakah tolok ukur tentang pribadi yang bersahaja dan bersikap seadanya tanpa ada kekuatan buruk bertandang dalam diri.

Karena semua manusia sejak lahir adalah suci bersih maka kemungkinan besar sisi suci bersih itu melekat dalam nuraninya.
Namun jikalau hitam pekat dalam benak hatinya yang kotor maka kemungkinan kecil kedengkian dan kebengisan selalu menyertainya.

Itulah perilaku manusia yang di ibaratkan ’blangkon jawa’ yaitu di depan sangat menghormati akan tetapi di belakang ’ngepelin’ atau nonjokin alias berakin, damn it!
Banyak falsafah atau istilah bahwa ’sabar ada batasnya’ namun jika memang berjiwa sabar, lakukanlah hal yang sebijaksana mungkin tanpa menyakiti satu sama lain.

”Wooyyy..! Penulis..? Kuping gue udeh panas nihh..! Bekoar mulu lo.. kaya kaleng rombeng ..!”

Sepertinya ada yang senewen akibat penulis terlalu ’sok wisemen’..?
Dan saatnya penulis membela diri dari jeratan kedengkian itu…

”Sabodo..! Yang penting gue nulis pake otak dan ngga pake dengkul..? Pera lagu lo..? hahahah..!”

Dan sepertinya lagi..
Piring terbang, golok melayang serta sendal ’bau kaki’ berseliweran di atmosfir sang penulis namun dari itu semua dapat di tangkis dengan kesabaran, cape de!

Kadang luapan emosi dan rasa tekanan luar dan dalam begitu membahana dalam sisi gelap seseorang.
Bawa santai saja semua luapan buruk itu dan mulailah singsingkan jiwani agar tidak merugikan dan menyakiti sesama penghirup oksigen di bumi pertiwi ini, be a best friends!

Kini penulis planga plongo memperhatikan radio cassete dan agak keder atau bingung frekuensi mana yang cocok untuk di dengarkan, listen to the radio.
Putar ke kanan.. siaran harga jual/beli bayi yang menjulang tinggi kemudian putar lebih ke kanan.. kini malah siaran jual/beli gas yang kadaluarsa yang akhirnya ’meleduq’.

Lalu putar frekuensi radio ke ujung paling kiri.. yap! Kali ini penulis tak sia-sia sebab sebuah lagu ketakadilan dan agak mendekatkan pada kebenaran mendendang…

~
Nyamuk-nyamuk yang nakal serta kecoa liar..
Jadi saksi kita berdua..
Kau dan aku baru akil baliq dan terpaku di sudut kamar..
Matamu & mataku beradu padu..
Astagfirullahallhazim..
~
(Doel Sumbang)

”Wooyyy..! Penulis.. itukan lagu tujuhbelas taun keatas..! Pegimane lo..!”

Psstt..! Untuk kedua kali suara sumbang dan fals teralun agak sentimen..?

”Protes mulu lo..! Kaya tukang jagal..? Nyunatin gaji orang aja lo gi dah! Heheheheh..?”

Dan penulis pun kocar kacir memasang kuda-kuda mengambil langkah tigaribu karena yang protes ’orang-orang yang mobil/motor kreditannya di tarik pihak tertentu’ akan tetapi onderdil kendaraan sudah di oplos, palsu..??

Ayo lari.. lari itu sehat…!!!

-Cibeureum, Saat senja ketika bersandar di waduk buatan sambil berdoa untuk seseorang di seberang lautan, keep the faith! :( -

Jul 20

Dan semuanya pun semakin mencapai pada titik kesempurnaan lalu itu semua hanya menunggu pergolakkan nurani semata.
Pergolakkan hidup yang menjurus pada suatu kebahagian, kesinambungan dan mungkin keselarasan dalam hidup itu sendiri, happy life.

Dari segala aspek itu sendiri kita hanya meraba apa yang di tingkahkan dan yang di katakan.
Jangan alibi itu menjadi acuan untuk percaya dalam statement suatu hubungan.

Terlihat dekat bukan berarti berpacaran dan terlihat acuh-acuh saja bukan berarti bermusuhan, kriteria.
Dalam suatu ungkapan juga banyak di jabarkan sesuai bidang yang ia dapati atau bidang yang ia kuasai, something to believe in.

Dalam mengarungi lautan kisah cinta itu asyik dan namun bila dalam mendapati kesakitan hati mungkin sebaliknya dari asyik itu sendiri.
Itulah perjuangan cinta dan perjuangan tak pernah usai bila kita belum merasakan rasa sakit dan merasakan rasa bahagia dari itu semua.

Rasanya jarang yang bersungguh-sungguh dalam mendalami kisah hidup sebab rasa ego, ambisi dan munafik kadang menjalar dalam benak itu sendiri, tafsiran.
Dan bila semua itu dapat kita jinakkan sepenuh hati maka semua mahluk pasti merasakan perbedaan yang amat sangat dalam arti kehidupan ini.

Terlalu panjang uraian di atas karena penulis serasa seperti pencinta ulung saja dan padahal juga mungkin penulis hanya mengidekan dari yang ia dengar dan lihat saja, nyontek.

Baiklah..? Mari kita galakkan kedisiplinan nasional untuk memajukan gerakan nasional orangtua asuh di negeri yang subur ini.

Lohh..! Kalimat yang benar namun di topik yang bertolak belakang?

Namun kesimpulannya tetap sama yaitu saling mengasihi, memberi serta menyayangi sesama umat beragama?

Maukah anda yang janggal dari sang Johny..?
Mari kita buka identitas si pria kucai dari ‘Goa Batu’ itu… codot kaleee!

Nama : Johny (by: Ello)
Status : Single & very happy ( by: Oppie A.)
Pekerjaan : ‘Umar Bakrie’ (by: Iwan Fals)
Umur : Kepala tiga (bukan kelainan system organ tubuh)
Alamat : Jakarta, Indonesia ‘gebyar-gebyar di langit jingga’ (by : Gombloh)
Hobby : Berpetualang, music, pesta pantai (by: Imanez)

Itulah biodata yang terselip dalam file dokumentasi yang di dapat penulis dan untuk yang lebih rinci mungkin pria itu akan meminta imbalan agak lebih, bonus.
Untuk soal selera makan ia tidak pilah pilih dan sepertinya untuk memilih saja ia tidak tega sebab ya.. jiwa ‘ngepas’ nya itu.

Masalah kisah kasih sayangnya pernah di tayangkan penulis namun ratting penjualannya tidak memuaskan sebab gaya pacarannya ‘ngejelimet’ atau tidak keru-keruan.
Mengapa tidak mendapat ratting tertinggi atau teratas pada tingkat kisah kasih sayangnya itu?

Sangat memungkinkan yang di karenakan ia tidak terlalu lepas membuka hubungan yang di karenakan ‘atut di tolak’.

“Saya sayang kamu..? Apa kamu mau jadi pendamping saya..?” Johny bertanya-tanya pada sang peri dan mungkin hanya khayalan penulis saja.

Dan ‘atut di tolak’ itu sebagaimana jawaban ini…

“Jadi pacarmu Johny..?? Maaf se…..” sang peri menjawab dan langsung di potong oleh Johny yang sudah membaca gelagat sang peri.

Sebelum sang peri melanjutkan perkataan itu kemungkinan kepalan empuk tangan Johny yang kapalan sudah menempel di jidat sang peri, bakk.. bikk.. bukk..!

Seperti itukah..?

Tentu tidak..!

Paling-paling telunjuk Johny akan menghentikan pembicaraan itu dengan posisi telunjuknya menempel di bibir sang peri lalu telunjuk Johny di tarik dan di kecupkan kembali ke bibir Johny, kiss this!

Lalu Johny melanjutkan…

“Ngga usah di terusi ucapan mu..? Cukup mual untuk mengunyah kalimat yang tidak berarti itu di hadapan saya..?”

Atau ia berkata…

“Jangan dengarkan ‘cecunguk’ berkata jelek tentang saya..? Cukup dengarkan kata hatimu yang sesungguhnya..? Okay..?” pletakk! Johny menjitak kepala sang peri.

Apakah itu yang selalu membuat lingkaran kusut atau menakutkan dalam fikiran sang Johny tentang sebuah kisah kasih sayangnya.

Hanya kalimat ini terlontarkan jika ia mendapatkan sejatinya…

“Cukup kamu menyayangi saya..? Inilah saya.. Jika kita bahagia anggaplah itu fase kasih dari sang pencipta..?”

Kemudian dilanjutkan…

“Rumah, mobil atau villa akan saya berikan hanya untuk mu..? Tapi tunggu…?? Tunggu ‘Kakek Buyut’ saya menghadap sang Rahmattullah dulu..! Hahahah.. Bo’ong denggg..??”

Kemungkinan ungkapan muluq sebuah kebahagian tak selalu atau terlalu di nomor satukan dan ia hanya memberikan janji…

“Jika kamu sayang sama saya..? Maka rasa sayang itu akan berlipat menjadi tiga dari yang kamu berikan pada saya.. Percaya ngga..?”

Jika itu pendapat Johny maka ‘penulis kurang percaya..?’ sebab hidup penuh pengorbanan dan perjuangan tak akan pernah berakhir.

Slappz..! Plakkz..!

Sendal jepit Johny merek ‘Bolkicut’ melayang ke penulis sebab penulis tidak mendukung sepenuh hati dan sangat menyudutkan prioritasnya sebagai pria lajang.
Untung penulis ‘ngeles’ jika tidak kotoran ayam di sandal Johny akan bertengger di pipi penulis, mambu rek!

“Peace, Johny..? Ba’e-an dong..??” kelingking penulis di sodorkan ke pria itu sembari nenteng sandal merek ‘Bolkicut’nya yang penuh ‘tai kotoq’.

Tapi dalam definisi Johny itu sepertinya penulis bertolak belakang sebab kadang-kadang cobaan dan godaan yang maha kuasa lebih super.
Peselingkuhan, pubbertas dan materialis dalam berumah tangga menjadi momok yang paling berbahaya dalam mengarungi bahtera rumah tangga itu, so shit!

Dalam semua itu tergantung pada salah satu pihak yang dapat menganalisa apa dasar dari hubungan itu.
Apa hubungan dari bagian sisi buruk atau dari sisi baik yang kadang orang selalu salah menafsirkannya.

Bagaimana para hadirin dan hadirot? Apakah anda sekalian sudah bosan dengan kisah-kisah belaka si Johny boy itu?
Maaf? Sepertinya hanya itu yang bisa penulis ungkapkan tentang perputaran kisah hidup dan cintanya yang berada di ‘ujung tanduk’, mengenaskan.

Hahahah..! Becanda Johny..?
Bukankah lebih baik di ‘ujung tanduk’ daripada di ‘ujung tokai’..?? maaf..?

Tiba-tiba ayunan tangan Johny melayang ke penulis yang berwajah pucat pasi…

“Weiitzz..! Jangan maen tangan Johny..! Pake hati dong..? Pake ampela dong? Hehehe..!” lontaran kalimat belas kasian dari penulis sebab tulisan itu menyulut emosi sang Johny.

Namun permintaan ampun dari penulis tak di gubris oleh Johny dan…

Kini sang Johny menguber-uber penulis dengan tokai di tangannya, maaf? Johny menguber-uber penulis dengan rantai Odong-odong di tangannya, tawur.
Tak di sangka Johny cukup galak, para hadirin dan hadirot yang penulis muliakan?

Okay..?
Mari kita hormati segala jenis kisah kasih yang tidak pada jodohnya atau kisah kasih yang tidak di restui dewi fortuna atau dewi sri itu.
Pada hakekatnya semua kisah asmara itu akan berakhir dengan mesra, bersahabat dan saling ketergantungan, take and give.
Walau…

~
Walauuu.. Apa..?
Walauuu.. Ku laparrr…!
Santailah sejenak.. Dan hentikan ambisi muw…
~
(God Bless)

Dan saatnya kita bidik orangtua dan anak yang sedang menikmati hidup bersama alunan kehidupan Rock & Roll…

Aura : “Pap..! Batunya bawa pulang yah..? Nanti di sarungin buat aku bobo, xixixii..”.

aurawithrock!

Aura lagi : “Pap..! Bau kentut..! Papap kentut yah..! Sana pelgi.. pelgi.. minggil ahh..!”

Papa : “Papah sakit perot, Nak..? Gara- gara makan martabak telor sisa semalam..??

Aura : “{Nutup hidung} Weqzz..! Jangan-jangan Papap cepilit di celana dehh..??”

Papa : “{Wajahnya merah padam sembari megang bokong untuk memastikan, apakah cepirit atau mencret…??”} :)

popandaura

Jul 15

Secerah senja membanjiri bumi dengan cahya yang gemintang lalu hewan berkaki dua menyerukan panggilan paginya.
Dedaunan runtuh berserak tidak beraturan dan nampak pula wanita setengah tua yang tidak bosan-bosannya mencoba mengenyahkan dedaunan itu.

Dari sebuah sudut kamar terlihat sosok yang sedang bergegas mandi setelah terbangun dari tidurnya yang lelap.
Radio Tape yang selalu menemaninya terus berkumandang dengan keras namun sangat bernotasi dan mengalun dengan indah.

~Yoweeyy.. Oweyy.. Yoweeyyy.. ! Star in the sky.. I’am beside you.. it’s true love..~
(Angel & Airwave)

Berjoget, bergoyang dan sedikit berdansa selalu sang pria lakukan untuk ungkapan rasa di pagi harinya.
Senja yang cerah, pagi yang berembun dan raungan kokok hewan berkaki dua sangat menyemangatinya.

Onggokan kertas-kertas yang sedikit usang dan kusam agak leceq di raihnya dengan penuh rasa kekangenan.
Gambar siapa yang tergurat dalam torehan tinta toner itu sehingga pria sangat ingin slalu melihatnya dan selalu mengangeninya.

Sudahlah terserah pria itu saja sebab ia mau mengangeni artiskah atau mau mengangeni pelawak itu sudah menjadi itikad personalnya.
Kini ia duduk bersila sambil mendengarkan radionya dan menikmati segelas kopi, kue pastel serta selintingan cigarette.

Angguk-angguk, geleng-geleng lalu komat-kamit mengikuti irama selalu ia lakukan jika berhati riang.
Sesaat selagi ia melalui ritual paginya itu maka datanglah sang sobat karibnya…

“Brow..! Berangkat ngantor ngga lo..! Mari gue anterin dahh..!” gertaknya dengan mimik antagonis.

“Bukan maennn..? ‘kang ngagetin orang lo yeh..! Emang ‘napa kalo gue ngga pegi ke kantor..? Emangnya lo mau ngongkosin gue..!” pria membalas kelakar sobatnya.

“Hahahah..! Kalo lo ngga pegi ke kantor kita jalan-jalan yukz..! Sekali-kali nyeneng-nyenengin gue ngapa..?” melas sang sobat pada pria.

“Bentar..! Gue bebenah dulu.. rapi-rapi dulu..? Kebetulan gue juga lagi kusut di kantor, friends..?” sang pria kini berusaha nyeneng-nyenengin sobatnya.

“Ehh.. Boss..! Bagi rokok dong..? Sa’em mulut nihh..?” kali ini sobat mengemis.

“Palinggg…. Palinggg…. Lo jadi orang yeh..! Kemari cuma bawa ‘burung perkutut’ lo doang..?” pria meledek sobatnya yang memang ‘ngga mau rugi’.

Detik merambat mengalahkan sesaknya rutinitas yang menjalar pada naluri sang pria akan kekusutan di tempat kinerjanya.
Sumpek, penat kemudian bebal di dinding sel-sel otak yang terlalu di forsir akan segala peliknya kehidupan integritas, loyalitas maupun cinta kasih tentunya.

Setelah semua usai di rapikan lalu segala yang di perlukan terpenuhi maka kedua sobat sobit itu terjun ke lapangan untuk menghilangkan rasa kusut.

“Ayoo..Let’s go! friends..! Bawa SIM ngga lo..! jangan bikin runyam acara kita yeh..?” pria memperingati sobatnya dengan nada lembut.

“Duduk manis aje, Boss..? Beli’in bengsin dulu yeh..? Heheheh.. Dari pada kita mogok di jalan, Boss..?” sobatnya kembali mengemis dan padahal di dompetnya penuh dengan rupiah dan sekali lagi ia memang ‘ngga mau rugi’.

Ribuan sampah dan jutaan debu di geber habis sampai kepulan asap menjulang tinggi.
Kucing dan hewan yang melintas lari terbirit-birit oleh kencangnya sepeda motor yang di sebabkan lajunya sepeda motor sobatnya itu.

“Huzz..! Syuhh..! Awass.. Minggir.. Minggir.. Boss gue lagi ‘buteq’ otaknye..! Gue giles lo pada..!”

Itulah kira-kira serapahan sang sobatnya pada manusia berwajah binatang dengan seenak motornya yang belum bayar pajak, ‘nunggak dua taun’.

Dengan berbekal helm hanya satu maka kini mereka akan menjadi incaran aparat tentunya.
Namun karena ‘trik-trik kadal’ sobat yang jitu maka urusan di tilang atau di tahan tak akan terjadi, ‘lewat jalan tikus atau jalan cecurut’ tentunya.

Berhektar hamparan tanah luas membentang dan di kelilingi pepohonan yang sangat rimbun.
Para mucikari, makelar dan maklampir terlihat asyik terduduk-duduk di beranda warung yang sangat berpotensi untuk mengeruk rupiah.

Di sisi pemandangan itu nampak penjual buah-buahan salak yang di jajakan setelah mereka berpanen ria.
Dengan dua puluh ribu rupiah anda bisa membawa buah salak itu sebanyak tiga kantung plastik kresek dan tanpa di pukuli tentunya, emangnya maling?

“Wahh..! Salak brow..? Beli dong..? Buat oleh-oleh anak bini gue, heheheh..?” sobatnya kini meminta tanpa pamrih pada sang pria sambil membuka kaca helm.

“Rumah yang jualan salak sekalian aja gue beli yehh..? Buat anak bini lo..!” pria menyinggung sobatnya sambil menggetok helmnya.

“Hueheheh..! Kandang burungnye juga di beli ye, Boss..? Paye lo, Boss.. Ngga bisa di ajak becanda..?” kini sobatnya mengeluh tentang buah salak itu.

“Tenang aja lo..! Pulangnye kita beli tu salak..? Kalo kancut lo bolong juga gue beli’in sekalian..! Ngarti kaga lo..!” serang pria agar sobatnya tidak ngambek.

Jawabannya seperti biasa…

“Kaga ngarti, Boss..! Heheheh..!” semprotnya begaya orang yang senewen namun agak bersahaja.

Dan seperti biasa sobatnya masih seperti pengemis kelas kakap…

“Boss..? Kalo panas gini jadi aus bawaannye..? Minum es jolly enak nich..?” kali ini memang terlihat mengiba sebab hawa lambungnya sudah berbau aneh akibat kurangnya asupan mineral.

Kemudian sang pria menyenggol sobatnya dengan kalimat mujarabnya…

“Tadi kita ngisi bengsin berape liter, brow..?” pria terkekeh-kekeh.

Lalu sang sobat terlihat cengengesan seakan ingin terbahak-bahak dan menjawab…

“Lo kira gue ‘mesin genset’ ape..?? di suruh ngokop bengsin gitu Boss..!” dan tanpa di komandoi sang sobat menepikan motornya ke sebuah kedai es kelapa dan es jolly di sisi jalan beraspal itu, rehat.

Kepenatan kini sedikit berkurang 13 derajat celcius dari titik tenang sang pria dengan mengandalkan sang sobat untuk ber-refreshing sejenak.
Padahal jika di pikir-pikir, beban dari sang sobat cukup tinggi sebab ia harus mencari rupiah agar anak serta isterinya hidup senang dan sentausa, kerja serabutan.

Kalau sang pria sendiri pekerja kantoran yang tidak terlalu di kejar setoran dan pria itu cukup santai menikmati hidup.
Pekerja lepas dan pekerja kantoran itu kini membuang jauh-jauh desakkan materi dari kerasnya kehidupan, leha-leha tanpa foya-foya.

“Boss..? Bini gue lagi hamil muda nich..! Kenape gue jadi mau makan mie ayam yak..?? Kenape gue yang jadi ngidam yak..??” sobatnya mengeluh dan banyak peluh menetes.

Sang pria pun berbicara lantang tanpa lancang tapi kencang pada sobatnya itu…

“Huahahah.. Somprettt..! Jadi kalo ngga gue beli’in, anak lo lahir jadi ileran yeahh..!” demi sobatnya senang pria itupun menyedekahkan sedikit rezekinya untuk calon sang cabang bayi dari sobatnya itu agar ‘ngga ngences’ jika lahir.

-Cisaat, Jalan Setu. Ketika kangen dengan si Baby :) -

Jul 13

Semilir angin meniup dedaunan di pesisir pantai yang terbentang luas dengan kilauannya yang sangat mengesankan.
Para pengunjung beduyun-duyun menikmati area berpasir itu dengan riuhnya kemudian para penjaja makanan menawarkan menunya yang berbeda suasana.

Para anak-anak, para suami isteri dan para pepasangan tak luput dari pemandangan yang sangat kekeluargaan itu.
Dari kejauhan nampak pesepapasangan yang sangat lain nuansanya karena dari gelagatnya juga sungguh berbeda, main gila.

Pesepasangan itu pun menikmati segala menu yang tersaji di hamparan lahan pepantaian dan tentunya dengan menu pantai, sea food.
Kadang mereka membuat suasana senyaman mungkin agar pertemuan itu tidak menjadi sia-sia dan selalu menjadi kenangan.

Selayang pandang mereka pun saling beradu mata seakan ingin mengatakan sesuatu namun kelihatannya tenggorokan mereka terlalu kering untuk berucap sesuatu.
Berucap sesuatu yang sangat sensitif dan terlarang bagi mereka berdua?

Sensitif..?

Terlarang..?

Sepertinya mereka bermain sandiwara di atas tali perkawinannya dan perlu di ketahui bahwa sang pria masih lajang dan sang wanita sudah berpasangan.
Untuk pria sendiri mungkin tidak terlalu beresiko sebab jika terjadi sesuatu hanya ia yang menanggungjawab sendiri.

Namun bagi sang wanita nampaknya sungguh beresiko dengan keluarga, suami dan anak-anak tentunya.
Tapi segala sesuatunya memang benar-benar beresiko sebab sang pria bisa di tempelengin sampai koma dan sang wanita bisa di mutilasi tentunya, maybe yes!.. maybe no!

Bagaimana mereka bisa berbuat seperti itu?
Apakah kurangnya kasih sayang atau beda dengan sentuhan lembut dari pasangannya sendiri?
Atau mungkin memang godaan atau cobaan yang maha dahsyat untuk mengelabui tali perkawinan mereka.

Kata-kata manis dan sangat berpujangga di lontarkan sang pria kepada sang wanita lalu sentuhan lembut sesekali menyentuh untuk menghangatkan.
Dan sang wanita terlena di buatnya atau kemungkinan kepayang terhipnotis kalimat-kalimat tak berujung itu, rayuan gombal.

”Kalo kecoa itu bisa foto kita bedua maka ini adalah moment terindah dalam diriku..?” si pria menggodanya.

”Heheheh.. Kalo pasir ini spring bed maka aku juga mau di kalonin kamu..?” sang wanita membalas kalimat sang pria sambil menarik hidungnya yang rada bangir.

Itulah trik-trik yang terbaca penulis ketika pemandangan yang janggal pada hubungan pembuat onar tali perkawinan itu.

~Bang bang tut.. Akar gulang galing.. Siapa yang kentut.. Di tembak raja maling.. Musuh dalam selimut.. Sama juga anjing.. Mulut bau kentut.. Di belakang ngomong miring..~
(Slank)

Kali ini ponsel dari pengunjung pantai berdering dengan nada dering yang pas dan tepat pada posisi pesepasangan aneh itu.
Dan pada saat itu pula rasanya penulis terbuyarkan oleh pemandangan yang tidak mengenakkan asa akibat dering ponsel sesama pengunjung pantai.

Sudahlah itu menjadi alibi para pemirsa yang apakah itu hubungan terlarang ataupun godaan cobaan semata dari yang maha kuasa.
Kini penulis tertuju pada salah satu keluarga yang sedang menikmati liburan panjang anak-anaknya, piknic.

”Pah..? Masih punya duit ngga..?” anak paling bungsu menanyakan sesuatu pada orang tuanya.

”Masih..? Emang mau beli apa, Nak..?” pria itu menjawab pertanyaan sang anak dengan sigapnya sambil merogoh koceknya.

”Ahh masa..?? Pinjem sama siapa, Pah..?” serang anaknya lagi sambil memegang saku Papanya.

”Hahahah.. Enak aja kamu kalo ngomong..? Khan Papah kerja, Nak..?” pria kini membela diri dari serangan sang anak sambil bergumam…

”{Tau aje kalo gue abis minjem sama koperasi ni anak..!}”

Kemudian di saat yang bersamaan para penjaja pantai menawarkan sesuatu dagangannya yang berbeda.

”Ayo, Pak..? Mari, Pak..? Naek Speed boat , Pak..? Sayang anak dong, Pak..?” penjaja itu mengiming-iming orang tua beserta anaknya.

Lalu sang anak tergoda rayuan itu…

”Ayo, Pah kita naek dong..? Sekali-kali mau naek perahu sambil liat-liat ikan..?” sang anak mengiba pada Papanya dengan penuh semangat.

”Okay..? Siap laksanakan..!” Papanya kini memberi komando sambil negoisasi masalah besar kecil biaya.

Mereka kemudian menaiki speed boat yang di komersilkan itu dan belum tentu nakhodanya punya rebues atau surat ijin mengemudi.
Dari tampangnya kelihatan sangar dan guratan wajahnya penuh dengan bayang-bayang gelap berlembar-lembar rupiah untuk bertahan hidup.

Kopi, makanan ringan dan sebungkus cigaret terlihat di dasbord itu dan sampah-sampah tembakau mengotori speed boat andalannya itu.
Sesekali ia menceritakan situasi serta kondisi yang terletak pada suasana pepantaian itu lalu tertawa kecil seakan menyumpahi keadaan sekitar.

Kemudian sang anak membisiki Papanya…

”Pah.. Pah..! Celana Bapak itu bolong, xixixiii..!” sang anak berbisik setengah tertawa geli yang di sebabkan melihat celana bagian belakang sang nakhoda abal-abal itu sedikit terkelupas.

”Hahahah.. Hueqzz..! Pesti itu kena bara rokok, Nak..? Warna bibirnya aja kaya cengkeh..?” Papa berbisik kembali pada sang anak sambil tersenyum.

Dan singkat cerita mereka menikmati panorama dengan menumpang Speed boat Bapak nakhoda itu.
Anak-anak lega dan riang gembira lalu mereka memberitahu sang Papa agar kembali lagi untuk menikmati panorama pepantaian itu jika liburan.

Warna biru pantai yang kontras dengan lelangitan menghiasi cakrawala lalu burung-burung pantai menari-nari diatas sudut pandang itu.
Celah-celah sisinya di timbuni oleh pepohonan yang sangat rindang dan cuaca panas pun tak dapat mengalahi pemandangannya, adem.

~Beautiful.. Beautiful girls.. Darlin’.. Darlin’ son and daughter..~
(John Lennon)

Suara irama dari Radio Cassette terdengar dalam kamar yang kecil dan mungil itu kemudian…

”Kapan kalian mau di anter, Nak..?” Papanya kini bertanya pada anak-anak sambil menggaruk bokongnya.

”Besok, Pah..? Sebab hari senen aku masuk sekolah..? Anak-anak yang selalu tersenyum riang menimpali pertanyaan Papanya sambil meledek…

”Idiihhh..! Papah jorok ‘begete’ sihh..? Pake di cium lagihh..! iiihhh…? xixixiii..!” anak-anak meledeknya sambil sesekali tertawa dengan riangnya sebab melihat sang Papa mencium tangannya setelah menggaruk bokong itu, weqzz!

Saatnya kita lihat senyuman manja mereka pada saat libur panjang itu?

Kika : Kaki, Kaka, Kaku, lohh..?? :) Kiri ke Kanan : Rara Putri (Sepupu) dan Aura Tri Cinta A.
”Adoohh.. Kak Putli..? Pala aku bisa sengkle nihh..!” rintih Aura
aura-cantik

”Upilnya di korek nanti aja, Nak..! Poto dulu yeah..?” goda sang Papa
aura-tri-cinta

Flecia Ramadhania with the ’victory’
”Jangan macem-macem ya? Aku colok lohh..!” candanya dengan nada lembut.
fleciaR

Flecia & Aura pose di Batu cadas :) ”Yap! Hayoo senyum..! Batunya jangan di jilat.. itu bukan ‘Gula Batu’ Nak..? Abis poto Papah kasih pizcok sama pizza yeah..?”
fleciakuw-aurakuw

Papah sayang kamu, Baby..? you know? ;)

Jul 09

Ketika mentari menyentuh jiwa dan mungkin kekuatan itu akan menjauh pada titik jenuh seseorang.
Titik dimana seseorang lelah dengan gejolak nurani jiwa yang terus menerus tersudut pada pembaringan.

Perasaan semena-mena dan guncangan jiwa akibat sesuatu yang memanipulasikan keadaan dari suatu sudut kebenaran.
Kebenaran yang bukan berarti kejadian dimana kita berada pada saat pembicaraan waktu itu terjadi, kebetulan.

Sepertinya penafsiran di atas sudah tidak pada diskusi yang di maksud atawa hanya perumpamaan pada saat seseorang mengambil alih jati dirinya dari kemunafikan dunia semata, lepas bebas.

Okay? Memang mentari kini mulai menari menyinari sesosok pria dan wanita yang sedang asyik-asyiknya berasyuk masyuk.
Kepala sang wanita terlihat bersandar manja pada pundak sang pria dan kini mereka menikmati gelombang ombak pepantaian, anak pantai, yukz kita reagge mas!

Itu hanya pemandangan liar yang menjijikan bagi segenap manusia-manusia yang masih berstatus bujangan dan gadis tentunya.
Dan kemungkinan sebahagian ‘emoh’ memandangnya dengan rasa ketulusan namun itulah romansa gita cinta dari ‘es em a’.

Seperti judul sebuah film tahun delapan puhan bukan?

Sedari mereka berdua-duaan tampak seseorang memperhatikannya dan sosok itu selayaknya sangat mendambakan seperti itu.
Namun apa mau di kata sebab ia juga sudah berusaha mati-matian agar kehidupan percintaannya sedemikian itu.

Pernahkan pembaca yang budiman dan pembaca yang watini merasakan kisah kasih sayang yang berbeda, psikis kromatig cintanig.
Tentunya ngga ya? Ngapain capek-capek ngurus kisah kasih sayang yang tak pernah terungkapkan itu.

Okay? Untuk kedua kalinya mari kita memantau sang pria pontang panting yang menopangkan tangannya pada kedua sisi tempurung kakinya, dengkul.
Kali ini jemari pria menyentuh kerikil kemudian melemparkan kerikil itu kepada sejoli yang beradu padu di tepi pantai.

Tenang saja itu hanya kamufles sang pria sebab jarak antara sejoli dan pria sangat berjauhan.
Dan mungkin jika jarak itu dekat maka tak pelak sejoli itu akan bocor atau gegar otak di buatnya, amnesia.

Sekali lagi tenang? Bukan karena pria itu jijik atau gondok akibat pemandangan yang sangat lebay alias berlebihan itu.
Memang itulah yang di lakukannya jika sang pria berada pada sisi pantai dan ia senang melihat kerikil-kerikil itu berloncat-loncatan di atas air pantai yang jernih.

Dan apakah ia sendiri menyendiri di tepi pantai? Jawabannya.. Tentu!
Ia hanya menunggu seseorang yang dianggap istimewa tentunya dan martabak telor istimewa kalah istimewanya di banding dengan yang dinanti, so special.

Tunggu punya tunggu sepertinya pria itu sudah tiga jam menunggunya dan padahal perincian jarak yang di tempuh sang ditunggu cuma dua jam perjalanan saja.
Kini ia mulai berfikiran macam-macam tentang sang di tunggu sebab sudah molor sejam waktunya, ngaret.

“Balo’on bener ni cewe..! Kalo ngga tau jalan bilang ngapah..!”

Atau…

“Wahh..! Ngadalin gue ni cewe..! Kalo ngga mau bilang ajah..!”

Atau kemungkinan…

“Jangan-jangan gue di kerjain nihh..! Dan ini adalah arti atas penolakkan sayangnya sama gue..! Sundelll…!”

Datangkah yang dinanti? Munculkah yang di tunggu? Atau berhasilkah pertemuan yang teristimewa itu?

Sang pria kini mengantongi kerikil sebesar kepalan tangannya dan berjanji akan mendatangi tempat bernaung sang wanita.
Kemungkinan batu kerikil itu akan di lemparkan sesuka hati ke wajah serta tubuh wanita yang di nantinya.

Maaf? Fenomena itu tak layak di pertontonkan sebab menyangkut pasal-pasal kriminalitas dengan jerat hukuman yang paling tinggi.

Deburan ombak menjulang tinggi menghantam bebatuan kemudian ombak memecah membuat percikan air yang menyejukkan.
Aroma deburan ombak begitu sejuknya dan harum anyir serta amis tak terlalu di hiraukan.

Pria itu kini meninggalkan sisi tepi pantai dan melangkahkan kaki dengan berjuta kebimbangan yang berkecambuk.
Kebimbangan hati akan sesuatu hal yang mungkin akan membuatnya bahagia jika memiliki rasa itu.

Belum seberapa kilo jalan yang di tempuh maka sesuatu terjadi di luar ekspresinya kemudian pria itu tersenyum.
Dari kejauhan terlihat lekuk tubuh melambai-lambaikan tangannya dengan kegirangan yang amat sangat, she comes.

Keduanya tersenyum di kulum sebab kali pertama perjumpaan istimewa itu dan ini adalah sejarah yang sulit untuk di ungkapkan bagi sang pria.

“Maaf yaa..? Kamu udah lama nunggu..!” wanita memulai percakapannya.

“Mmmm.. ‘mayan..? Mungkin kalo di taro di frezer bisa jadi es balok dehh..!” pria mulai berhumoria.

“Sekali lagi maaf dehh..? Kita makan yukz..! Aku udah lapar nihh..? kali ini wanita berbicara sembari mengelus perutnya yang sistematis.

Mereka pun menikmati prasmanan yang menyenangkan itu dan bagi mereka itu adalah moment yang paling indah.

“Bagaimana keadaan kamu sekarang..?” wanita bertanya sambil menikmati hidangannya.

“Agak kurang fit..? Sebab lagi flu nich..?” pria menjawab pertanyaan itu sesekali mengambil makanan sang wanita bagai orang celamitan.

“Mmm.. itu flu cinta yaa..?” wanita kini menyuapi pria sebab terlalu jorok dengan mengambil makanan dengan tangan.

“Hahahaa.. Kamu tuh kalo nebak bisaaa ajaaa..?” pria hampir keseleq akibat suapan yang terlalu cepat.

Kemudian wanita menceritakan tentang apa yang sangat menggangunya dalam hubungan mereka.
Karena yang ia tahu dalam kode etik perkumpulan kekeluargaan hubungan tidaklah bisa terjalin maka mereka tidak bisa untuk saling menjalin kasih dengan leluasa.

Apakah pria pernah merasakannya?

Merasakan tidak enak hati karena hubungan itu tidak di respon sebahagiaan kalangan.
Entah itu kalangan orang tua, neneknya ataupun kalangan kakek-kakeknya sendiri.

Namun dari semua itu sejoli ini mengerti arti sebuah tata kromo dan tata arsip, maaf? Yang terakhir mah urusan anak SMEA.

“Mudah-mudahan kamu mengerti kenapa aku bertingkah seperti itu?” tanpa di sadari kalimat itu terlepas dari bibir sejoli itu secara bersamaan.

Lalu sejoli tersenyum penuh kasih sayang.

“Aku sangat menyayangimu..? Bolehkah saya terus dan terus menyayangimu walau hanya kau dan saya yang merasakan..?” pria membuka kata-kata di kala mata mereka saling bertatapan.

Tatapan tajam sang pria dan tatapan lembut sang wanita saling bertempur dalam getaran asmara.

“He’ehh..?” wanita mengangguk dengan dagu yang sangat pria idamkan.

Kini tangan pria menepi di genggaman sang wanita dan berbisik…

“Boleh saya antar malam ini, baby..?” pria menempelkan bibirnya tepat di telinga sang wanita yang sangat ia sayangi dan cantik tentunya.

“Emoh..?” wanita kembali berbisik dan nyaris bibir mereka beradu, ehemm!

Karena perkataan itu maka seketika pria menjenggut rambut wanita dan mengoyak-ngoyak seakaan ingin melepaskan anak rambut dari akarnya.

Maaf? Pria hanya tersenyum dan merasa senang saja atas perkataan ‘emoh’ itu.

Pergejolakkan hati serta nurani sangat berkeselarasan pastinya dan itu akan membuat energy positif pada hubungan mereka.
Hubungan yang terlanjur basah oleh sikap keadaan yang mungkin sangat di paksaan dan mungkin penuh keterpaksaan.

~Jika bukan milik mu.. Dan janganlah bersedih.. Ya sudahlahhh..?~

Itu lagunya Bondan Prakoso yang baru tho!

Terlalu romantic untuk ukuran orang yang sedang menjalin asmara dan itu ungkapan arti sayang namun di kala berdua bayangan itu lepas tak berbekas.

O ya? Maaf..? Karena penulis terlalu segan melanjutkan maka biarlah para pemirsa cinta kasih dan sayang dari anda punyai maka andalah yang melanjutkan.

Apakah mereka adem ayem saja dalam hubungan itu?

Dan apakah mereka di karungi lalu di buang di tengah jalan oleh orang yang tidak merelakan hubungan itu?

Dan atau mereka hidup bahagia dalam hubungan yang ‘dilarang melarang itu’?

Kemudian pada saat yang sangat nyaman itu tiba-tiba ponsel sang pria bordering…

~Peluk aku.. Jangan menyerah.. Mereka bukan hakim cinta.. Bintanglah yang mempertemukan kita.. Cinta, kasih sayang dan doa pasti ‘kan menang..~
(Nidji)

Rembulan pudar cahyanya dan awan mendung menumpahkan derasnya air kemudian saatnya mereka melangkahkan kaki ke asalnya masing-masing dan tak bersama.

Ingin tahu percakapan apa di ponsel pria itu…?

“Friends..? Dimana lo..! Kalo udah gajian lupa sama yang ngasih makan lo yak..?” sahabatnya minta pertanggungjawaban atas janji sang pria.

“Somprettt..! Gue lagi ngga enak ati hari ini..! Ngutang dulu aja lo sama Bang Bagol…! Besok gue bayar.. ‘Cepe’ aja.. Kalo lebih gue ngga bayar..? Ngarti kaga lo..!” jawaban kecut dari sang pria.

“Kaga ngarti, Boss..! Heheheh…!” sang sahabat meledeknya dan pria mendapat senyuman gratis dari sahabatnya yang rada-rada itu, rada gangguan otak..!!!

sunsetsad

Jul 06

Senyum mungil anak-anak terlihat ceria dan sangat menyenangkan hati kemudian apa saja yang terlintas selalu mereka tanya.

”Apaan tuu, Pah..? Koq muka mereka di warna-warnain seperti ituh..?”

Yang mereka lihat dan tanya adalah seorang banci dan badut ketika para orang-orang komedi itu menghibur para penonton untuk mengais pasir buat membangun rumah, maaf? Untuk mengais rezeki agar mereka tetap bertahan hidup, it’s a hard life.

Atau pertanyaan…

”Pah..? Koq Papah jadi jelek begituh..? Begadang melulu sihh..!”

Dan itu pertanyaan ketika sang anak melihat wajah orang tuanya yang lelah akibat terlalu banyak menandatangani surat jalan para pejabat daerah, maaf? Lelah akibat terlalu banyak pikiran untuk masa depan yang diperuntukkan anak-anak tersayangnya.

Mungkin ada juga pertanyaan seperti ini…

”Aku mau pindah sekolah, Pah..? Sebab di sana aku kurang begitu sreg..? Bole khan, Pah..?”

Jikalau ini suatu pertanyaan yang super membingungkan karena pertama kali mendaftar, sang orang tua tidak pernah memaksa apa yang mereka inginkan, jika berpatok pada kebenaran.
Paling-paling orang tua hanya menyeka keringat di jidatnya sebab pindah sekolah itu butuh biaya uang gedung, uang seragam dan uang demontrasi, maaf? Yang terakhir khusus makelar pembuat onar saja.

Yap! Okay..? Itulah secuil tingkah polah anak-anak yang sangat menggemaskan dan juga membuat geregetan sang orang tuanya.
Dan syukur-syukur kita tidak menggebukinya ataupun mencubitnya, bitt..! bitt..! bitt..!
Jangan pernah atau jangan sampe sereflek itu walau sebahagian orang tua pernah melakukannya tidak terkecuali sang penulis, gelap mata.

Keceriaan anak-anak tidak dapat membohongi sebab jika suka mereka tersenyum dan jika mereka bosan maka yang terjadi adalah kegundahan hati lalu cengeng.
Perasaan tidak enak hati pada seorang anak bisa terlihat tanpa kita menanyakannya terlebih dahulu dan contohnya seperti ini…

Ketika itu seorang pria mengajak anak-anaknya untuk bertamasya kemudian kendaraan roda empatnya di ’geber abis’ agar cepat sampai ke tujuan.
Di dalam kendaraan tampak salah satu anaknya yang tidak enak hati atau kesal dan entah karena apa tiba-tiba memancing suasana.

Dari jok kursi belakang ia melompat ke jok kursi tengah kemudian merambat ke jok kursi sang pria yang sedang mengemudi.
AC di mainkan dari maksimum ke minimum lalu volume Tape recorder di besar kecilkan kemudian perseneleng gigi di goyang-goyang, kacou!

Pada saat itu pula sang pria bergumam…

”Wah..! Wah..! Parah nihh..! Gue gamparin ngga yeh..? ’Napa jadi gini anak gue..?”

Belum habis sang pria bergumam dengan sadisnya maka sang kakak dari anak tersebut menguntitnya dari belakang.
Dari mimik wajah kakaknya terlihat cukup kesal dengan sang adik kemudian sang pria bergumam kembali…

”Wadoohh..! Di jambak deh nih..! Di cekek deh pesti..! Bisa gawat urusannye nich..!”

Dari pemandangan yang tampak memang suasana menjadi agak kisruh oleh sebab sang adik yang ’ngga enak hati’.
Seketika sang pria mengambil jalan tengah agar pertumpahan darah itu tidak dapat terjadi di liburan yang hangat itu.

”Jangan pada berantem yeh..? Biarin aja adek kamu kaya begitu..? Pokoknya kalo pada berantem Papah puter balik mobil ke Ragunan aja..? Bagaimanaaa..??”

Karena mendengar sang pria berceloteh maka anak-anak kini tersulut emosi kemudian dengan geramnya mereka menjawab pengumuman dari orang tuanya.

”Yeee..! Katanya mau ke Water Boom..? Kita khan udah bosen liat binatang-binatang itu, Pah..? Papah tukang kibul nichh..!”

Seketika dan tak di duga sang anak-anak mulai menendang wajah Papanya, Gelepoxxx..!

Sang kakak ikut-ikutan menjabak rambut Papanya juga, Kreexxx..!

Kemudian sang adik kini menginjak-injak perut Papanya, Heqqhzz..!

Lalu mereka beramai-ramai menghujani berbagai ilmu bela diri kepada sang Papa yang bergaya koboy.
Kendaraan roda empat kini berjalan tidak beraturan dan jalannya melengkang melengkung bagaikan ular kadhut yang kelojotan terkena garam.

Sang pria terlihat diam seribu gaya dan membiarkan dirinya di bulan-bulani oleh para anak-anaknya, pasrah.
Lalu pria itu hanya mengeluarkan selampe atau sapu tangan putih yang bertanda ’damai”.

Kekerasan diatas hanya perkiraan penulis saja sebab sang pria tidak sebegitu pasrahnya dan anak-anak tidak sebegitu ekstrimnya, it’s a joke, friends..?

Yang penulis ketahui sang pria hanya menjawab seperti di bawah ini…

”Iyaaa..! Kita memang ke sana..? Tapi jangan pada berantem dong..? Papah jadi emped dan puyeng nihh..!”

Setelah mendengar Papanya menjawab maka para anak-anaknya sedikit riang gembira lalu salah satu anaknya memberikan Koyo agar sang Papa tidak pening, pusing plus puyeng, fresh!

”Di tempel ini aza, Pap..! Sini aku tempelin di jidat Papah..!”

Pria hanya senyum dan kakak beradik itu mulai bermain sesuka hati tanpa ada beban yang mendera.
Dengan Koyo yang menempel di jidat atau di kening maka pria kini nampak semakin seperti tukang penjual daging Pasar Induk.

Suasana semakin tentram dan damai kemudian jalur lajur sekitar cukup lengang.
Hanya pepohonan dan rerumputan yang mereka lintasi sebab suasana itu yang dapat membuat mata menjadi sehat, ijo dangdut.

Sambil menikmati perjalanan kini tanya jawab anak dan orang tua berlanjut…

”Katanya Papah mau bawa teman cewek..? Mau di kenalin sama kita-kita gituw..? Pacar Papah yaa..? Xixixiii.. hayooo ngakuuu..?”

”Hahahahh..! Kebetulan orangnya ke puncak, Nak..? Sepertinya ada urusan pribadi dan ia belum siap jadi Ibu dari kalian..? Kalian bandel sihh..! Hahahahh..?”

”Yeeee..! Bilang aza Papah belon punya pacar..? Papah ’tongpes’ sichh..! xixixiii..?”

Mhhhhh… Anak-anak selalu enak untuk di ajak interaksi walau kadang-kadang sulit untuk menjinakkannya.
Jika sudah ada maunya maka harus di pertimbangkan besar kecilnya biaya yang harus dikeluarkan.

Dan jika keinginan itu tidak terlaksana atau tidak di tepati maka orang tua siap-siap di cemberuti dan syukur-syukur orang tua tidak di timpuk batu segede bola kasti oleh anaknya, Puukk..!
Singkat cerita mereka berlibur sesuai ’kocek’ yang ada dan tidak memaksakan diri untuk bertamasya dengan menjual rumah, mobil ataupun sawahnya.

~Di negara ini kita butuh makan dan bekerja.. Di negara busuk ini bersemilah cintaku yang abadi.. Dan di negara ini kita tersenyum pedih..~
(Koil ‘black light shine on’)

Dari merdunya alunan lagu di Tape Recorder kendaraan itu sudah cukup membuat semuanya bahagia namun belum sesuai keinginan tentunya.
Tiba-tiba dering ponsel anaknya berbunyi dan sang anak memberikan kepada Papanya…

”Cepat pulang, Johny..? Mama mau pake mobilnya buat beli obat Papa muw..? Jangan lupa isi bensin sebab kamu suka pura-pura lupa..!”

Yap! Sang pria suka lupa membeli bensin saking gembira bersama anak-anak maka sang Ibu memperingatkannya.
Walau kadang lupa tapi sang pria akan mengganti dengan ’mentahnya aja’ pada sang Mama.

”Nii Mah..? ’Mentahnya’ aje yehh..? Ati-ati sakit perut sama yang mentah-mentah, Mam..? Hahahah..!”

kid3

Jul 02

~Kepak sayap hitam Rajawali.. Menembus cakrawala.. Melintas mengelilingi angkasa.. Berikan khabar berita..~
(Iwan Fals)

Volume sound speker dari rerumahan yang terpetak-petak itu membahana dan lantunannya kadang membuat bulu kuduq dan roma terbangun, merinding.
Cuaca memang tidak mendukung saat itu sebab terlalu panas untuk ukuran daerah yang penuh rerimbunan pepohonan.

Sebagian warga tampak berkerumunan memanjakan diri dengan duduk santai sesekali tertawa lepas.
Terdengar bisik-bisik tetangga secara bergantian walau terdengar sedikit sumbang dan agak memojokkan, ngerumpi.

”Si Johny begini.. ni.. ni.. ni..!”

”Si Johny begitu.. tu.. tu.. tu..!”

”Begini.. Begitu.. Begitu.. Begini..!”

Seperti lagu tahun tujuh puluhan bukan..?

Itulah seutas senandung yang memanaskan telinga jika apa yang mereka tidak lihat namun mereka membicarakan seenak jigongnya, kasarnya.
Kemudian dari kejauhan tampak mereka yang jigongan, maaf? Kemudian dari kejauhan mereka yang merumpi terkekeh-kekeh, cekikikan lalu terbahak-bahak.

Biarkan saja mungkin pikir sang ’di bicarakan’ sebab biarlah kebenaran yang mengungkap walau ungkapan kebenaran selalu datang terlambat.

Ruang perumahan petak tersebut kini dijajaki seseorang bertajuk Johny kemudian sebagain perumpi saling menyapa dengan kehangatan.
Dan padahal ia tahu sedang dalam forum perbincangan buruk harkat martabatnya namun ia acuhkan saja.

”Emangnya lo pada yang ngasih makan gue..! Ngegaji gue..! Atau cebokin pantat gue..!” nurani Johny berkecambuk.

Dari kejauhan sang Mama sedang asyik memberi makan seekor monyet peliharaannya dengan busana seadanya, daster.

”Johny..? Bagaimana kisah ci…??”

Belum lengkap pertanyaan Mama maka sang Johny memotong pertanyaan itu dengan mengangkat telapak tangannya yang berarti ’Stop!”
Kemudian ia menunjukkan ibu jarinya lalu membalikkan ibu jari itu sebagai tanda kisah itu ’Nol besar!’.

Sesosok pria itu lalu menuju rumahnya yang berdempetan dengan sang Mama kemudian hanya tampak punggungnya yang sangat lelah.

”Maafkan Mama, Nak..? Karna tidak berbicara jujur tentang kisahmu itu..? Mama Cuma ingin kamu tetap semangat dan selalu sayang terhadap anak-anakmu juga Mama..?”

Sepertinya orang tuanya tidak tega jika ia memberitahu bahwa kisah asmara Johny terlalu banyak hambatan.
Dan juga orang tuanya tidak tega memberitahu jika asmara itu bukan untuk anaknya sebab ia tahu gelagat anaknya yang agak ’dingin’.

Seketika juga orang tuanya menghampiri rumah kecil anaknya sambil membawa bekal sewadah kue basah kesukaan anaknya, kue tart.

”Ini kue buat anakmu..? Cepet makan dulu sana..! Terus langsung mandi, Nak..?”

Dari lekak lekuk guratan wajah Johny terlihat ia diam seribu bahasa dan tak menggubris segala perkataan orang tuanya.
Orang tuanya cukup tahu akan hal itu dan sudah terbiasa akan tingkah laku anaknya sebab ia orang tuanya dan bukan orang utan.

Gerak gerik lekuk tubuhnya seperti sedang grinsang atau lelah nampak dari perilaku sang Johny.
Dan ia hanya bergumam dalam sanubarinya…

”Leave me alone, Mom..?”

Tanpa di lontarkan kata-kata itu oleh anaknya maka sang Mama sudah dapat menyimpulkannya dengan cermat.
Tubuh yang sudah enam puluh tahun hidup itu kini meninggalkan anaknya seorang diri kemudian mengelus helai rambut sang anak.

Kini tampak tubuh seorang bernama ’anak itu’ di rebahkan di kasurnya yang busanya sedikit mendam atau kempes.
Langit-langit dinding diatas atap di tatapnya tajam-tajam dan seonggok sarang laba-laba tampak bergoyang seraya menggodanya.

”’Napa lo Johny..! Kangen sama anak lo ye..? Tilpun dong..? Jemput dong..? Khan ini hari libur panjangnya..? Jangan sia-siain mereka dan mereka juga kangen sama lo..!”

Kini Johny tersenyum sangat kecut lalu ia merapatkan kedua bola matanya karena terlalu sepat atau perih akibat kurang istirahat.
Ia tidak dapat memejamkan matanya terlalu lama sebab masih menyimpan banyak keluh kesah yang harus ia jinakkan.

Kemudian Tape recorder tahun 1999 di nyalakan…

~Ada bangsat di korsi.. Menggigiti pantat kuww.. Kau hisap-hisap darah dalam daging kuww.. Begitu saja.. Ohh ya.. Ohh ya.. Ohh bangsatku yang cantik.. Enyahlah dari kuww..~
(Slank)

Seiring dengan ocehan laba-laba tadi maka saatnya sang Mama kembali memberitahu sang anak yang sedang terkulai lemas bagaikan seekor anjing herder yang terjulur lidahnya.

”Nak..? Tadi anakmu telfon katanya mereka minta di jemput..? Gimana..?”

Karena tidak ada respon dari sang anak maka sang Mama melanjutkan…

”Gimana kalo Mbak mu yang jemput..? Sebab anak Mbak mu juga mau jalan-jalan katanya..?”

Masih dan masih tidak di jawab oleh anaknya dan apakah memang lidah Johny kebeler alias lecet terkena benang layangan?
Atau ia jadi gagu dikarenakan ucapan Mamanya yang membohongi Johny tentang masalah rasa sayang itu?
Hanya ia yang tau…?

Akhirnya saking kesalnya sang Mama menendang bertubi-tubi tubuh anaknya hingga jatuh terkulai, maaf? Akhirnya sang Mama meneruskan pertanyaannya…

”Tidurlah jika kamu lelah, Nak..? Buang rasa itu.. Sebab jalanmu masih berliku untuk bermain dengan asmara, Nong..?”

Sang anak masih terdiam sambil mendengarkan alunan nada irama yang cukup bershymphoni lalu mengutarakan dalam hati saja…

”Makasih, Mam..? Saya lagi lelah..? Dan tolong jemput anak-anak saya, Mam..?”

Sosok orang tua itu kini melangkahkan kaki meninggalkan segumpal darah dagingnya yang terlena buaian iringan lagu.
Sang anak menyempatkan diri untuk menyentuhkan tangannya ke kaki sang Mama kemudian orang tua itu menoleh dan tersenyum.

Bagaimana dengan gerombolan perumpi itu?

Apakah Johny menyiramkan seember air got ke wajah mereka?

Ataukah ia melempar molotov ke forum itu lalu baju mereka rombeng karena terbakar?

Dan ataukah mungkin Johny merangkul mereka dengan pelukan erat tanpa ada permusuhan serta pergunjingan?

Awan sore terbumbung tinggi dan bergumulan membentuk variasinya dengan bongkah yang atraktif.
Pria itu kini menyiapkan acara untuk kedatangan anak-anak kesayangan yang ingin berlibur bersamanya.

Saatnya ia mengencangkan ikat pinggang untuk mengerem sedikit pengeluaran pribadinya sebab anaknya lebih penting dari segalanya.
Bela beli yang tidak penting ia sisihkan lalu sembako ia kumpulkan dan kemudian pria itu mengkalkulasi isi dompetnya agar tidak keteter untuk ongkos ke kantor.

”Hayooo.. Bubarrr..! Bubarrr..!

Pssstttt..!! Sepertinya Johny yang sedang kesal sebal kini ia benar-benar menyiram ’perumpi’ itu dengan air comberan dari got sebab ’perumpi’ bicaranya sudah tidak bisa di terima dengan hati yang ikhlas..?? :(

suspectx3

Jun 30

Kinerja di perkantoran saat itu memang tidak terlalu padat atau pun menumpuk dan malah hanya terlihat karyawan bersantai-santai saja.
Ada yang menawarkan barang serta jasa, ada yang bercanda sampai kegelian dan ada pula yang melobby masalah hutang piutang, jipem dokat.

Semua yang tampak malah sangat plong dan lega tanpa ada beban hidup yang membebani walau wajah mereka menyimpan duka derita yang nestapa.
Yang lebih tampak senang dari wajah-wajah lucu mereka adalah ketika para karyawan itu mendapatkan tugas dinas ke seluruh penjuru atau pelosok daerah, sosialisasi.

Yap! Kadang harapan itu menjadi suatu pencerahan bagi rakyat di ruang kantor itu dan lebih-lebih jika mereka mendapatkan dinas ke pelosok yang jauh jarak tempuhnya.
Sebab itulah mereka selalu sumringah dan tersenyum panjang saat nama-nama mereka tertera sebagai penjelajah negeri, surat perintah jalan.

Biaya penginapan, makan dan uang transport di sediakan lalu segala kecebelete yang notabene tidak begitu sensitif tetap di berikan secara intensif tanpa di potong terlebih dahulu, full.
Tetapi dari itu semua harus mereka laksanakan dengan penuh tanggungjawab sebagai pelaksana maupun koordinator, bahan konsultasi lengkap.

Dari para pelaksana penjelajah negeri itu tampak dua sahabat yang mendapatkan giliran untuk menelusuri daerah di salah satu provinsi.
Dua sahabat ini lain jabatan namun saling mengisi dan saling menghormati satu sama lain jika berada pada porsinya, he’s the boss.

Yang satu Kepala Kantor Wilayah dan satunya lagi staff dan itu sudah jelas beda dalam konfigurasi perjabatan.
Namun jika di luar tugas mereka seperti tukang becak pada umumnya, semau gue.

Kakanwil : ”Weyy! Kita dapet tugas nihh..? Siap kaga lo..!”

Staff : ”Yo’i dong..? Siap dong..? Emangnye dapet tugas kemane Mboss..?”

Kakan : ”Ke neraka, hahahahh..! Konsultasi sama yang di siksa..!”

Staff : ”Heheheh.. Transportnye pake clurit yeh..? Tinggal belex leher, langsung modar langsung masup neraka yeh..? Parah lo, Mboss..?”

Kakanwil : ”Ke Bali, friends..? Leha-leha kita di sana..? Kalo di sini kita malah sakit kepala, sakit perot dan bikin sakit ingatan, hahahah..! Gimanaaa.?”

Staff : ”Cabuttt.. Mboss..?”

Kakanwil : ”Cabut gigi lo..! Hahahah.. Yap! Kita kemon.. Jangan lupa bawa arsip yang di perlukan dan ingat.. Bawa modal yeh..?”

Itulah hawa segar yang di hembus dari rasa kepenatan pada sisi para karyawan yang lelah akibat menumpuknya jam kerja dan masalah yang menerpa.
Tertawa lepas, saling meledek dan kadang-kadang saling memukul sesama rekan menjadi pemandangan yang humoria.

Perlengkapan yang di butuhkan segera di rapikan kemudian segala perkakas untuk bersiap siaga jika kehabisan modal, di peti kemaskan.
Sebab mana tahu kita jika sewaktu-waktu kecopetan, kejambretan atau kerampokan dan pestinya kita akan kalap alias habis pikir dan perabot itulah yang dapat di tukar dengan rupiah, tukar guling.

Karena segala sesuatunya harus di kerjakan dengan penuh tanggungjawab maka dalam hal itu mereka menjalaninya dengan semangat kepatriotan.
Kalaupun kadang-kadang tugas itu dikerjakan dengan tidak sepenuh hati maka dapat di terka segala sesuatunya kurang mendukung.

Kurang mendukung disini banyak sekali kategorinya yaitu semisal bahan rapat belum lengkap dan yang paling riskan adalah masalah fulus atau rupiah.
Malah kadang-kadang mereka berusaha mati-matian demi integritas komponennya dengan kasbon sana sini dulu agar tugas terlaksana dengan mulus.

Okay? Itulah sedikit bocoran dari prosedur kinerja pejabat kelas teri yang menjalani tugas dengan penuh tanggungjawab dan berpatokkan pada hati nurani.

Hamparan pasir di pesisir pantai sangatlah terbentang luas dan mahluk bumi terlihat menikmati fenomenanya, relax.
Di sisi lain sang putra daerah malah asyik-asyiknya dengan menjajakan hasil karya daerahnya, souvenir.

Dua orang sahabat yang tadi kita perbincangkan kini baru tiba menjajakkan kaki di pulau dewata itu dan kini keduanya sangat menikmati tugas yang di embannya.

Staff : ”Mboss..? Kita nginep di mana nih..! Hotel bintang empat apa yang bintang tiga..?”

Kakanwil : ”Kita di Hotel Melati aja, heheheh..? Biar lebihnya banyakan dikit..? ’Mayan buat karouke-an..?”

Staff : ”{Bukan maen Mboss gueh..? Udeh jelek maunye nginep di Hotel ’kelas sendal jepit’ lagih..? Padahal lumpsumnye banyakan dia daripada gue..?} Terserah deh! Mboss..? yang penting ngga tidur ngemper di jalanan..?”

Kakanwil : ”Kita kesini sekalian represing dan untuk hal yang sedemikian rupa harus di pikirkan mateng-mateng..? Ikutilah motto Koperasi yang dengan modal seratus jadi sejuta, heheheh..?”

Staff : ”{Pale lo bau terasi..! Sekali-kali pan gue mau ngerasain service yang memuaskan..! Kalo kaya gini mah gembel namanya..!} Setuju, Mboss..? Sekalian aja pake motto Kopasgat Mboss..?? Hahahah.. ”

Dengan bergulirnya waktu maka kedua sahabat itupun mengurus segala administrasi ke bagian protokol setempat.
Bahan yang di siapkan langsung di konsultasikan lalu asupan aspirasi dari aparatur daerah di telaah sesuai koordinasi.

Dan dengan kesiap siagaan dan modal intelegensi yang sudah mereka kuasai maka segala sesuatunya berjalan sesuai prosedur, sakses.
Surat menyurat di teken atau di tanda tangani lalu makalah di sebar luaskan kemudian saatnya mereka bersantai agar tidak menjadi gila dibuatnya, stress.

Kakanwil : ”Huahhh..! Selese juga akhirnya..? Kemana sekarang kita, Cung..?”

’Cung’ adalah singkatan Kacung yang biasa sang Boss menyapa rekannya.

Staff : ”Berenang aje ke pantai, Mboss..? Khan banyak bule-bule yang pada mijit, hahahah..!”

Kakanwil : ”Kaya ikan aja lo..! Ngga bole liat aer langsung nyebur..! Begimane kalo kita ke Cafe dulu baru ke pantai..?”

Staff : ”Terserah deh! Mboss..? Gue si ngikutin aje..? Khan Mboss yang bayar, hahahah..!”

Kakanwil : ”Yeee..! Kalo kurang tetep aja lo tambahin, Cung? Khan lo gue suruh bawa modal..??”

Staff : ”{Ahh..! Paling-paling Mboss gue deh! Meditnye ngga kira-kira..! Dasar otak dagang ni orang..!} Hayoo kita cabut dehh! Mboss..?”

Para pedagang berjejer di sudut jalanan dan para pengunjung berjejal dan menghampiri maka transaksi jual beli terlaksana dengan gegap gepita, laris manis tanjung kimpul, dagangan abis utang mumbul.

Hari yang sangat berhiruk pikuk itu memang membuat mereka menikmati dengan seksama dan senyum merekah tersungging di bibirnya.
Banyak yang di tawarkan di pulau dewata itu sampai-sampai bila kita terlalu lama berdiri di pinggir pantai pasti akan di tawar, di kira patung orang-orangan.

Dengan mengantongi dompet yang tebal dan tampang yang perlente dua sahabat itu petantang petenteng menelusuri hiburan cafe, panggung bebas dan tentunya pesta pantai, lets party.
Begitulah kira-kira mereka menjauhkan kepenatan suasana dengan berbekal rupiah seadanya dengan bantuan aparatur daerah tentunya, kolega.

Staff : ”Mboss..? Kalo ngga begini.. Negara ngga akan berjalan yeh..?

Kakanwil : ”A.. U.. Ahh! Gue aja yang pejabat hidupnya masih morat marit, xixixiii…??”

Staff : ”{Eleeehhh..! Tiga biji Mboss kaya gini, bisa-bisa semakin melarat anak buah sama rakyat nihh! Huahahah..! Mboss.. ijazah lo beli kali yeeh..?}”

Sang staff hanya ngedumel dalam hati sambil menikmati ’long islands’ dengan kaca mata serta cigarets yang selalu menemaninya, time to rock n’ roll, baby?

~Aku datang untukmuuu.. Kan ku berikan semua untukmuuu.. Kan ku jadikan nyata hanya untukmuuu.. Semua tentangkuuu.. Semua tentang cintaaa..~
(Roy Boomerang)

Jun 28

Saat yang paling indah dan menentramkan hati adalah saling berinteraksi satu sama lain namun itupun dilakukan oleh kaum hawa dan kaum adam pada tentunya, ’papa charlie-an’.
Tiada kata-kata yang dapat di ungkapkan bila kita bersama anjing, monyet atau macan, maaf? Tiada kata-kata yang dapat di ungkapkan bila kita bersama perampok, pencopet atau pembius, heheheh.. maaf para dbloggers?

Tentunya para penyimak lebih tahu dan tanggap apa yang dimaksud di atas yang penulis artikan sebuah kebersamaan antara pria dan wanita, kata-kata yang berjuta maknanya.
Saling pandang, saling bertatapan dan saling ’beradu mulut’ adalah suatu hal yang sangat.. sangat.. dan sangat.. susah untuk di lupakan, fly to the moon.

”Itu ’napa besot-besot tangannya..?”

”Wadooohh! ’napa matamu pada sembab-sembab begituw..?”

Atau…

”Sini.. Gue bantuin mikul.. Kamu terima bersih aja..??”

”Kamu tunggu di sini..? Biar gue yang ngurus semuanya..?”

Dan atau hal yang ngga penting misalnya…

”Lohh! ’napa rambutmu di semutin..? Kamu kasih biang gula ya..?”

Dan pada akhirnya…

”Sunnn donggg..??”

Yap! Setiap kali kita bersama pada waktu yang sangat permulaan memang hal yang tidak penting selalu terutarakan.
Dan oleh sebab itu adalah hal yang wajar bila kita menjajakkan awal mula dari sebuah hubungan yang sangat romantis sekaligus kritis dalam percintaan
Dan mudah-mudahan anda sekalian tidak di cekik atau di siksa setelah saling dekat dan saling memiliki.

Walau ungkapan di atas tadi sudah basi atau ketinggalan zaman biarlah para penyimak mendiskripsikannya dengan notasi percintaan yang lebih handal.
Toh! Pada dasarnya semua akan mengalami strategi serangan percintaannya masing-masing yang sangat indah tentunya.

Tapakkan kecil lari anak-anak di pelataran rumah itu sangat terdengar sangat riuh dan sedikit membuat gendang telinga panas.
Sebab mereka anak-anak yang berperilaku sebagai anak-anak dan tingkahnya juga seolah-olah memang berjiwa anak-anak.

”Ada yang tak beres dengan kalimat di atas?”

Sang Mama dan kakak perempuannya kini sedang duduk di muka rumah sambil di sibukkan dengan prakarya yang aneh, nyabut uban.
Mamanya terbiasa dengan waktu santainya untuk bermanja-manja pada kakak perempuan Johny seperti pemandangan itu.

Kelihatannya sang Mama tidak betah akan warna rambut yang membuat wajahnya tampak tua dan sangat renta, ubanan.
Sampai-sampai lahan rambut di kepalanya terlihat sedikit botak atau gundul akibat penebangan liar oleh kakak perempuan sang Johny, tanpa HPH.

”Wadoohh! Kalo terus-terusan di cabutin bisa botak, Mah..? Emang ngga ada cara laen selain di cabutin..?” bagai bensin yang di sulut oleh api sang Johny langsung berkelakar.

”Di pikoq gituw maksudnya..? kakak perempuannya menyambungkan kalimat pertanyaan Johny.

”Ngga.. Ngga..! Mama ngga mau di pikoq sebab membuat kulit kepala Mama jadi agak panas dan mendidih..? Enakan di cabutin abis enak sihh.. hihihih..?” Mama membela diri dari solusi anak-anaknya sembari senyam senyum saking keenakkan di cabutin, kebiasaan buruk lagi?

Itulah percakapan yang kadang terlewat di saat mereka berkumpul dalam satu wadah kekeluargaan sang Johny.
Kemudian ia melangsungkan pertanyaan kepada Mamanya.

”Mam..? Betul nih yang Mama bilang kemarin bahwa wanita itu sayang sama Johny juga..?” ia menanyakan yang di karenakan rasa penasaran yang sungguh hebat.

”Ceiileeyyy..! Johny puberrr ni yee..? sang kakak menggodanya sambil mengerjakan prakarya uban sang Mama, sampai-sampai salah cabut dan Mama meringis kesakitan.

”Pssstt! Biarin aza adek kamu kasmaran..? Itu betul John..? Darah Mama mengalir dalam tubuh kamu dan Mama juga tau kalo dia akan mengisi tulang rusuk cintamu yang pernah hilang..? ’Camkanlah..?” sang Mama memberi wejangan penuh semangat untuk anaknya.

”Kira-kira kelanjutannya gimana, Mam..? Apa dia tau kalo Johny juga sayang sama dia..?” semakin penasaran semakin ia mencecar sang Mama dan ia mulai bersila di depan wajah Mama serta kakak perempuannya.

”Ia pun tau, Nong..?” Mama kadang memanggil semua anaknya dengan sebutan ’Nong’ dan hanya ia yang tahu arti ’Nong’ tersebut, what the meaning of ’Nong’, Mam..?

”Sudahlah, Nong..? Jalani saja walau banyak hambatan dalam kasih sayang kalian..? Ngga ada yang bisa ngalahi rasa kasih sayang cinta sesungguhnya dan hanya kematian yang bisa memisahkan kasih sayang ituw..? Ngerti maksud Mamamu, Nong..?”.

Kini sang Mama menambahkan kalimatnya kembali seraya mengaduh yang di sebabkan keram akibat terlalu lama duduk.

Kemudian…

”Kalo kamu sayang bilang aza, Johny..? Sampe jerawatan gituw mukamu, xixixii..? Ehh Mah..! Masa jerawatnya berbentuk hati, hahahahh..!” kali ini kakaknya menggoda lebih hebat dan Johny di buatnya keteter atau terpojok karenanya.

Seiring dengan hempasan angin menerpa maka rapat keluarga di tutup secara damai oleh sang Mama.

”Cukup..! Cukup..! Nanti kalian malah jambak-jambakkan lagi..? Kamu angkatin jemuran aza, Johny..? Sepertinya di luar cuaca cukup mendung dan pesti akan turun hujan..? dan Mama bukan dukun cabul ataupun dukun beranak yang bisa selalu tau tentang romansa percintaanmu..?”

Lalu sang Mama melanjutkan…

”Lekas angkat jemuran, Johny..! ’Napa kamu malah ikut-ikutan nyabutin uban Mama..??” kini Mama memberi komando ’gugus tiga’ yang artinya kedisiplinan dalam rumah tangga.

Hujan kini turun bergerimis dan angin cukup tenang di iringi desiran dedaunan yang tertiup sang dewa angin.
Aliran air hujan tertata rapi di beranda teras rumah itu dengan sela-sela semen yang di bentuk serupa dengan sirkulasi persawahan, sekat.

Johny mengingat dan berkhayal kejadian yang dialaminya selang beberapa waktu lalu ketika bidadari mungil memberikan lagu untuknya.

~Memiliki, mencintai dirimuw… ’Tak akan membuat dirikuw menyesal… Sungguh matikuw.. Ku ’kan slalu membutuhkanmuww..~
(Tompi)

Apakah Johny diam saja akan lagu pemberian bidadari mungil itu?

Apakah Johny langsung di gaplokin sang bidadari mungil itu? Plakk.. Plakk.. Plokk..!

Dan Apakah Johny akan membiarkan dirinya di gaplokin yang di karenakan ia sayang dengan bidadari kecil itu?

Biarlah mereka menikmati romansa sayang yang mungkin hanya mereka yang mengerti kemudian Johny menyalakan Winamp radio kesayangannya untuk wanita yang bidadari kecil itu.

~’Tak akan ada cinta yang lain… Ku pastikan cintaku hanya untukmu… ’Tak akan pernah terbesit olehku ’tuk jauh darimu… Dan akupun takut kehilangan dirimuww..~
(Titi DJ)

Dan kali ini juga Johny ingin mengecup bibirnya yang mungil serta membelai rambutnya dengan rasa sayang yang amat sangat.
Johny menjuluki bidadari kecil itu dengan julukan ’Baby, koq kamu harum sekaleee!’ sebab memang dia harum bak toko-toko parfum di Mall Mangga Besar.

Dan bidadari kecil menjuluki sang Johny dengan julukan ’Johny Dongo’ alias bego.

Bakk.. Bikk.. Bukk.. Plokk..!!!

Jepp kiri.. jepp kanan Johny kali ini mendarat di ulu hati dan rahang penulis.
Penulis pun kojor atau ambruk akibat pukulan yang bertubi-tubi dari sang Johny namun kini ia mengobati sang penulis sambil mengancam agar penulis menulis sesuai fakta serta net-konsep yang telah di sepakati, trully.

Dan setelah pertarungan sengit itu maka sang penulis baru sadar jika Johny di juluki bidadari kecil dengan julukan ’Johny Don’t Go’ dan bukan ’Johny Dongo’.

”Puas engkau Johny..?” penulis merintih sambil menulis dengan tekanan dari sang Johny.

Apakah Johny keblinger, kesengsem dan kepincut pada bidadari kecil itu, what can i do?

JUEGEERRR…!!!

Suara kilat membuat Johny kehilangan romansa khayalannya kemudian ia lari terburu-buru dan terpeleset lalu menyebabkan jemuran yang di angkatnya berjatuhan dan kotor kembali, na’as.

”Johnyyy..! Kali ini kamu bilas semua jemuran itu dan langsung di setrika..!!!” kakak perempuannya kali ini yang memberikan perintah ’gugus tujuh’ alias cepat dilaksanakan dan jika tidak Johny akan di jitak habis-habisan oleh Mbak-nya itu.

Ingin tahu apa yang di maksud dengan sapaan ’Nong’ untuk anak-anak sang Mama..?
Tafsiran sesat sang penulis sapaan itu adalah..

Nang-Ning-Ning-Nang-Ning… Nonggg..!!!

Sang Mama bersenandung di kala anak-anaknya menangis karena stock susu habis dan pada saat itu sang Papa dinas keluar kota demi sesuap nasi dan sekontainer rupiah maupun dollar, good job, Pop?

Sembari menunggu pakaian kering maka Johny berpose di meja setrikaan lalu mendekap sebuah poto idolanya, Mhhhhh… :)
img0019ajohnyboy

-matanaga-