Pada mulanya suatu pandangan antara seseorang adalah karunia yang sangat berarti.
Pandangan itu hanyalah efek bias antara simpati dan hormati yang tak lebih bersifat pada saling mengagumi.
Kagum pada gaya bicara, gaya perilaku ataupun gaya berekspresi dan namun kadang itu menjadi bumerang pada sikap seseorang itu sendiri, senjata makan tuan.
Bumerang itu sendiri di sebabkan oleh tingkah yang di buat-buat atau tidak pada dekorasi ruang itu sendiri.
Bermacam gaya dan tingkah seseorang sangat dominan dengan peragai yang mereka punyai.
Jangan sampai anda bertingkah seperti monyet di area keagamaan dan itu akan membuat anda menjadi samsak oleh banyak umat, di gebugin.
Dan juga jangan anda bertingkah seperti mandor proyek di area demontrasi sebab anda akan di bekuk yang di karenakan dianggap biang rusuh atau dianggap mandor biang kerok.
Nah! Jika anda saling mengagumi maka jangan di salah tafsirkan sebagai ketertarikan pada gaya tipu daya itu sendiri, kesengsem.
Pada intinya kita sebagai manusia hanya menggemari apa yang kita idolakan dan apa yang kita anggap sangat asyik.
Sangat asyik disini banyak kriterianya dan itu mencakup banyak ruang yang tidak di kotak-kotakkan, I’m free.. free fallin’.
Kita akhiri segala bentuk rasa kagum di atas dan jangan di salah artikan bahwa kagum itu adalah mencintai atau rasa kagum itu ‘demen’ dan sangat ingin memiliki.
Deburan air hujan membasahi bumi dan jeritan para hewan amphibi menyerukan doanya pada sang dewa hujan, kwong.. kwungg..kungg..!
Sendal jepit terlihat terbawa arus berikut plastik-plastik yang mengotori genangan got tersebut.
Entahlah si empunya kemungkinan akan terperangah jika melihat sandal jepitnya hanya tinggal sebelah karena di ambil arus air, ‘lengit’ brow!
Kemudian pada sisi permukaan bumi tampak seorang pria yang sedang termenung dengan cigarrete menemaninya, ngelamun.
Lalu dari balik penghujan itu tampillah sahabatnya yang sering bertandang menemaninya lengkap dengan sekujur badan yang basah kuyub.
“Hello, brow..! Dar.. Der.. Dor..! Heheheh..?” sang sahabat mengagetinya sambil berlaga seperti ‘koboy cengeng’ lengkap dengan jari menyerupai ‘pestol aer’.
“Yaa Allah..? Ngapain ujan-ujanan lo..! Mau ngalap mangga Wak Simin lo yehh..! Laga lo kaya Jenggo, brow..? Huahahahaa..!” sang pria tercegang ples tercekat akibat ulah sahabatnya yang basah kuyub mirip ‘tikus got’ itu.
“Gue lagi demen mandi ujan neeh..! Biar ubun-ubun gueh adem..? Abis tiap hari bini gue ngomel mulu kaya burung be’o..? Numpang bilas yak..!” kini ia langsung ngeloyor dan mengotori rumah sang pria yang notabene ‘ngga punya pembantu’.
Itulah tindak tanduk sang sahabat yang kadang mampir ke rumah pria hanya melontarkan segala problematik bahtera rumah tangganya, pelampiasan.
Kadang jika sudah berumah tangga seorang suami kurang bisa menguasai medan tata berumah tangga.
Isteri sedang ingin di perhatikan, ingin di manja-manjakan atau ingin di gaplokin, maaf? Yang terakhir KDRT.
Pada dasarnya itulah peragai sang isteri dan sang suami justru tidak mengetahui gerak gerik sang isteri yang lagi ‘demen di manja-manjain’ dan akhirnya ‘nyerocos’ serta bekicaw melulu.
Beras habis, gas kosong serta rupiah tidak ‘gableq’ maka menjadi pemicu pertempuran dua hati menjadi satu itu, cek cok.
“Bukannya nyari duit malah molor lo yak..! Emangnya ada nyang nganterin makan untuk kita…? Pake otak lo donggg..?”
Begitulah kira-kira dan perkiraan dari omelan sang isteri kepada sang suami yang rezekinya berslogan ‘hari ini makan.. besok puasa”.
Atau rezekinya berslogan ‘hari ini puasa.. besok pas lebaran makan enak’ asyik tho!
Namun hanya diri kita saja yang dapat memanfaatkan suasana agar dapat menjinakkan hal-hal yang remeh itu, strategi.
Strategi yang bisa di kuasai dengan hati yang tenang agar tidak terjadi ‘perang mulut’ antara dua pihak, rukun.
Kini sang sahabat nampak sudah selesai membasuh diri dari ‘maen ujan’ dan terlihat sedang ‘menjembreng’ atau menjemur pakaiannya yang terlanjur basah.
“Numpang ngejembreng, brow yeh..? O iyeh.. Gue pinjem kolor lo dulu ampe pakeian gue kering, heheheh.. Kolor lo gatel, brow..??” sahabat mulai meledek sang pria sambil ‘begaya pembantu ngejemur’.
“Kurang asem lo yeh..! Udeh minjem banyak lagu lagi..? Ngomong-ngomong.. Bini lo ngomel gare-gare ape si..? Ngga pernah setoran kali lo ya..!” pria kembali menangkis ledekan sahabatnya sambil ‘garbol’.
“Beras abisss..! Gas kosongg..! Dompet kempess..! Ohh.. Tuhan sebegitu bencinya Engkau dengan hamba Mu iniii..!” sahabatnya mulai meratap sembari tangannya menengadah ke atas awan, pray for Allah.
“Huahahaha.. Bocorrr lo..!” sang pria ‘ngga tahan’ atas sikap sahabat yang bukan main ‘senga’ alias ‘ngeselin itu.
Life is real…! Dan sudah menjadi suratan atas ciptaannya kepada segenap manusia dan namun sebisa mungkin kita berjuang demi kelangsungan hidup itu sendiri.
Dalam artian itu sendiri kita hanya dapat terus.. terus dan terus beriman kepada Nya tanpa melihat buruk dan sengsara atas suratan Nya, tawakal.
Kemudian karena sikap sahabatnya yang familiar maka seperti biasa sang sahabat mulai ‘geratakan’ atau ‘mentakil’ alias rese.
Meja makan sang pria di acak-acak lalu tutup mangkok di buka-buka kemudian wadah nasi di ‘cowel-cowel’ seperti kucing dapur yang kelaparan.
“Wahh.. Paye lo, brow..! Isi meja lo.. ngga jau beda sama di rumah gue..! Miskinnn..!” sahabat sudah mulai kelaparan dan geram akibat sudah tak ada yang bisa di ‘lebok’ atau di makan.
“Ehh.. Nyong..? Kalo laper bikin ‘bubur gandum’ aja tuhh..! Pake susu kentel.. Zyaahh..! Pesti asyik dah!” pria menawarkan makanan berbeda pada sahabatnya yang ‘berlidah’ timur.
“Di mane-mane bubur itu dari nasi..! Kalo yang buatan orang barat.. Lidah gue belon nyampe, brow..? Mari bagi gue duit.. Gue mau beli nasi goreng ajah..!” dan sahabat pun mulai tidak sabar akibat cacing dalam lambungnya menggerogoti sel-sel lambung.
Begitulah sang sahabat yang susah beradaptasi dengan lingkungan ‘kebarat-baratan’.
Dan untuk semua yang berbau aneka macam makanan ia hanya cocok dengan ‘sayur asem ikan asin rica-rica’ untuk selebihnya ia lebih baik makan ‘nasi+garam’ saja, cacingan de lo!
Sang pria kini memberi sahabatnya lembaran rupiah untuk membeli ‘nasi goreng pete’ di ujung jalan dekat pepondokan sang pria.
Dan sepertinya sang sahabat kini bermalam di rumah sang pria yang di sebabkan ‘anak bini’ nya sudah diungsikan ke rumah mertuanya, nebeng.
Cahaya bola lampu kristal memancarkan sinar yang begitu indah kemudian seekor kunang-kunang menari-nari di pepondokan itu.
Tariannya lemah gemulai setara dengan kepakan sayapnya yang mungil dan itu suatu keindahan alamiah.
Sesaat sang pria memandang sahabatnya yang tertidur pulas di lantai dan bukan tidur di kasur busa pria.
Sepertinya sang sahabat lebih memilih tidur di lantai sebab itu menjadi kebiasaanya yang sejak lahir, orang planet.
~Peluklah aku dan genggam tanganku.. Jika ku jatuh nanti dengan sepenuh hati.. Sebab kadang bintangku tak terang.. ~
(Ari Lasso)
Seperti biasa tape recorder sang pria mulai bergeming menemani tidurnya hingga terbangun di fajar nanti.
Bagaimana dengan sahabat sang pria tersebut?
Pandangan pria kini tertuju pada posisi sahabatnya yang terlelap hanya memakai celana kolor kedodoran itu.
Saking kedodorannya maka terlihat benda yang sangat janggal dan bantet di balik kolor kedodoran itu.
Weqqzz..! D’Khulup Band.. friends..!









