Tak Pernah Di Sampingku Lagi

27 Mar 2014

Terasa pegal bila berjalan. Cape sudah menghitung pepohonan.
Entah berapa gundukan rerumputan di singgahi.

Dan semua menjadi berita penuh cerita. Derita terhapus pelita.
Seimbang dan tak mesti derita terus atau ceria melulu.

Sinar mentari membawa Johny kemana ia suka. Penuh tumpukan hidup yang mesti di rangkai kembali. Sebab semua telah menjadi serpihan kecil yang mesti di utuhkan lagi.

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Atau, dari sabang sampai merauke lama-lama jadi boke, entahlah.

Semua butuh kerja keras. Harus punya kemampuan. Jika sudah kerja kemudian mampu. Maka ajal menunggu. Hari ini atau lusa. Kapan saja.
Jika belum kerja dan tidak mampu kemudian mampus. Maka sungguh sia-sia dan sial nasibnya.

Jalani saja dengan seksama. Niat di bagus-bagusin. Amal di banyak-banyakin. Dan do’a di kenceng-kencengin.
Niscaya, ada sorga disana. Mudah-mudahan.

Tiba-tiba.

Bang Emul membayangi Johny lagi. Kali ini Bang Emul di perban kepalanya. Ia tidak meringis apalagi merongos.
Johny kegelian melihatnya. Padahal Bang Emul tidak ikut kampanye.

Sayang sekali. Sobat Johny tidak melewatinya. Tak pernah di sampingnya lagi.

Aah, cukuplah.

Lalu Johny membasuh jemari di selokan sawah.

Lalu menghirup dalam-dalam aroma angin persawahan.

hemmm-haah!

Ada bau disana. Bukan bau nafas. Lalu bau apa. Bau parfum atau bau jigong.

Cuma Johny yang merasa.

7dd8af44824ccfc4a1862a52f9f45a85_images609

*)sumber seluruh gambar dari poskota, google dll.


TAGS


-

Author

Follow Me