Pekarangan Dunia Dan Keajaiban

2 Jun 2014

Empuknya bantal guling dan harumnya bantal pala masih segar terasa.
Udara pagi pun menghembus halus melewati bawah kusen pintu.

Johny tetap tertidur pulas. Sesekali mencari-cari sarung lusuh andalannya.
Untuk kurupan agar tak di sengat angin dingin yang nakal.

Nampaknya ia kedinginan juga. Padahal semalam Johny tak sempat mandi.
Dan paling tidak, sisa keringat yang menjadi daki mampu menangkal dingin.

Namun kenyataannya lain dan Johny pun tetap menggigil di sengat angin pagi.
Di kasur lainnya nampak sobat Johny yang juga tertidur.

Ia seorang wanita. Lebih tepatnya sobat karib yang tau seluk beluk dan sepak terjang si Johny.

Semalam mereka membelah angin. Kesana kemari tak menentu.
Mereka mencari pertanyaan maupun jawaban yang tepat atas permasalahan yang ada.

Memang tak lazim jika berdua dalam satu kamar.
Tetapi tak usah Piktor dulu? Sebab sebagian sobat Johny sudah bangun semua.
Untuk memulai pekerjaan mereka masing-masing yang telah mereka tekuni.

Semalam mereka berlima. Gadis dua dan pria dua. Satunya lagi kucing Johny.
Dan sudah biasa jika larut malam maka rumah Johny jadi peristirahatan terakhir mereka.

Disana tidak ada pesta binal. Tidak ada pesta dangdut koplo. Dan, tak ada pula hip hop goyang krawang.

Yang ada cuma pelepas lelah saat tenaga tekuras oleh rutinitas hidup.
Berlima itu ketika salah satu sobat membutuhkan bantuan.
Entah bantuan dana, bantuan kebhatinan atau pun bantuan fisik.

Namun kadangkala malah Johny yang sering di bantu oleh sobat-sobatnya.
Karena Johny di cap urakan dan menghalalkan segala taktik untuk menjalani sebuah pengalaman.

Maklumlah, saat itu Johny masih muda.
Jadi, jiwa beringasnya masih anget dan pemberontakkannya juga menggebu-gebu.

Dan mungkin anda pernah merasakan jiwa muda, darah tua. Walau merasakannya dengan takut-takut atau sedikit ngeper.

Baiklah? Agar cepat selesai kisahnya maka mari kita fokus ke kamar Johny lagi.

Dalam suasana dingin kini Johny pun terbangun. Karena sarung buluknya tak ketemu.

Kemudian Johny terpaksa masuk ke dalam sprei bunga mawarnya.
Terasa hangat di sana. Tetapi serpihan kapuk-kapuknya membuat Johny bersin-bersin.

Sobat Johny jadi keberisikan dan galau seribu pendengaran.
Lalu sang sobat menghampiri Johny seraya berucap lembut.

Sobat Johny ternyata minta tolong agar ia di antar pulang.
Dan biasanya ia pulang sendiri. Dengan pinjam motor Johny atau naik angkot di pertigaan rumah Johny.

Sobatnya nampak memelas pada Johny.

Permintaannya terdengar sendu.

Nadanya pun standar. Notasinya juga melemah.
Padahal sobat Johny masih demen makan nasi. Tidak suka makan karet gelang atau sabun mandi.

Kini Johny cuci muka lalu kumur-kumur. Setelah itu menyemprotkan parfum merk Denim favoritnya.

Usai memanasi motor maka mereka berlalu. Sobatnya memeluk erat pundak Johny.
Nafasnya masih bau hawa bangun tidur.

Wajar, karena ia belum mengisi perut saat itu.
Mereka tak bicara dalam perjalanan. Sebab sama-sama belum makan dan takut kebau an.

Sesampainya di tujuan maka Johny berpamitan. Dan sobatnya hanya menyunggingkan seberkas senyuman.

Lalu ia mencubit kulit pipi Johny seraya berpesan; Jangan nakal ya, brow? I miss you?

Sesudah itu Johny baru tersadar bahwa pertemuan terakhir tak selalu musti menitikkan airmata.

Akhir tulisan;

Dengan nasehat atau senyuman maka pertemuan akhir akan menjadi memori yang cukup mengikhlaskan rasa.

Setelah kepergiannya lalu Johny berlinang lara.

Awan pun menghujani Johny meneteskan air duka.

Mentari juga bersinar redup di kelopak mata.

Dan;

Semoga sobatnya tenang di pekarangan dunia yang penuh keajaiban mimpi.

~love

c8e2edd5dc4d28571e27d2b7ec250900_images5h1t


TAGS


-

Author

Follow Me