Kerakyatan Dipimpin Oleh Kebijaksanaan

26 Jun 2014

Pemilihan calon Bapak Negara atau Bapak Indonesia semakin gencar dan menarik.
Rasanya, pada setiap pemilihan begitu mencolok pada type mencari kelemahan/kesalahan di masing-masing pihak.

Dan mungkin? Sudah dari sono nya kalees!
Dan atau;
Apakah setiap kegiatan dalam rangka pemilihan calon presiden mesti saling sikat sikut.

Adapun demikian semua sungguh menarik untuk di simak.
Segala rentetan kasus pejabat bermasalah saat ini pun lenyap di permukaan seperti minggu tenang.

Namun dilihat dari perkembangan serta pertumbuhannya maka sang berita selalu melangkah tiada henti.
Mereka terus dan lanjut memberitakan kehangatan cacian dibumbui dorongan semangat.

Seorang rakyat, bebas tebar pesona untuk sang calon presiden dengan embel-embel simpati.
Tapi mereka secara langsung mempromosikan calon presiden gebetannya.

Dan;

Seorang terkenal pun tepe-tepe juga demi sang calon presiden dengan kekuatan penggemar yang di punya.
Semua itu dari hati atau cuma ancang-ancang agar terlepas dari jeratan rasa takut/hukuman.

Jika dari hati itu namanya keikhlasan dan jika cuma ikut-ikutan berarti ada udang di balik bakwan jagung.
Entahlah? Dan, Itulah hidup?

Pada umumnya calon pemimpin harus punya track record yang asyik.
Rekaman hidup yang buruk belum tentu akan buruk selanjutnya.
Dan rekaman hidup yang baik tidak selalu benar seterusnya.

Kini Johny menatap layar monitor tivi penuh mesem.
Para Calon Bapak Indonesia nampak sendau gurau sesuai arahan.
Tampaknya mereka bukan berdebat soal dapur ngebul.

Namun mereka terlihat saling gencet prospek unggulannya masing-masing.
Johny tambah mesem saat mereka bisa mencairkan konversasi dan berjabat tangan.

Padahal itulah moment yang di tunggu-tunggu Johny. Sebab Johny paling demen dengan to the point. Daripada banyak bicara yang penuh omong kosong.

Tatapan Johny masih tegak lurus ke monitor tivi.

Tapi lama-kelamaan matanya lelah karna seharian matanya mandangin kesono kemari.

Badannya kini ia rebahkan ke lantai sambari menarik tumpukan buku dan koran untuk sandaran kepalanya.

Johny pun terlelap sebelum acara presiden pilihan tamat.

Dalam lelapnya maka Johny masih merasa anaknya menyelimuti.

Selimut warna merah dari bahan beludru agar Johny tak kedinginan.

Psstt..! Papa bobo? Gitu bisiknya pada sang kakak.

Kemudian Johny cuma mangap saja.
Dan mungkin leher Johny besok pagi bisa kaku karna tidur bergaya bebas mirip gaya batu.

Johny pun mimpi kembali.

Bermimpi orang Indonesia selalu rela bela negara dan bela bangsa.

Untuk kesejahteraan. Demi kemakmuran. Bagi rakyatnya.

c529ee922aa91b948e2228876e7987e6_imagesindonesiajaya


TAGS


-

Author

Follow Me