• 26

    Mar

    Membelah Malam Ketika Mendung Datang

    Demikian adanya dan semua tak terkendali. Ada debar. Ada gejolak. Ada hasrat. Ketika semua beradu padu kemudian menjadi nafsu yang menggeliat. Keinginan seakan bertubi-tubi menghantam. Ada letupan hasrat untuk melakukan. Banyak pula peredam untuk menyudahi. Bila merangkum salinan diatas maka sebuah pemikiran tertuju pada pelaku. Suatu pelaku yang bisa saja membunuh, bercinta atau serong dan faktor sesuatu lainnya. Dengan rinci, semuanya menjadi kejahatan dan lambat laun diketahui. Semua berputar. Seluruhnya berulang. Cuma doa yang mampu menasehati diri. Menjadi jahat cukuplah mudah dan berbuat baik sungguhlah gampang. Walau semua perbuatan/tindakan pasti banyak firasat miring. Dari manusia-manusia yang tak menghendaki. Hanya kemungkinan. Hari serta waktu jualah yang menjadi guru saa
  • 22

    Mar

    Minanty Rosimah Shendawa

    ~ kau buka pintu kamarku ku masih tidur lelap malam itu buka mata, pasang telinga ada kamu di mimpi ku Mari sini main cinta lagi mau cinta lagi, lagi, lagi ~ [song by: no limits band] Sesaat angin memomong mereka. Membiarkan kemana semua terlalui. Dahaga, lapar maupun lelah ikut serta ke dalamnya. Dan, semua memang butuh dukungan rupiah. Tanpa itu maka sekeliling terasa membosankan. Walau membawa bekal namun tetap saja ada hasrat untuk membeli. Johny dan sobatnya sepakat melalui hari dengan sederhana. Maka, Johny tak mungkin bertanya berapa rupiah yang ada di tas keranjang sobatnya. Tas keranjang yang cuma berisi salinan baju, buku, pulpen dan rupiah. Tanpa ada kosmetik dan alat satelit yang dibawa. Kemungkinan, sobatnya telah menjual alat satelit berupa seluler, laptop atau pun tabl
  • 20

    Mar

    Hanya Angin Yang Rela

    Selalu berkesan saat-saat yang dilalui. Kesan ialah ciptaan tersendiri dikala perjalanan panjang. Ada tumpukan dongeng yang mungkin harus dilupakan jua. Menjadikan kesan seakan tak berkecukupan jika ditumpahkan dalam buku-buku. Semua kesan itu bisa terlewat karena tak sempat terbaca. Kesan yang berupa pesan dan tampak diabaikan. Sebab semua bukan seorang pembaca yang budiman. Namun apabila semua disinggung maka semua ialah pekarya. Yang pada topiknya mereka punya kesan tersendiri. Tanpa mereka urai dan dituliskan dalam buku atau catatan. Hari menyongsong ke malam. Ada abu-abu dan kemudian ada gelap disana. Sebagian beristirahat dan sekelompok lagi tetap bekerja. Dalam hari tak ada keberhentian. Hari berlangsung dan tak henti melukis waktunya. Tidak ada perubahan yang hari jalankan.
  • 18

    Mar

    Ketakutan Bukan Sekedar Khayalan

    Dalam dunia khayal, kadang pesona mimpi bisa nyata saat membuka mata. Yang mengerikan bukan melihatnya. Tetapi disuguhi tayangan yang sebegitu kejinya. Sewaktu-waktu, dengan sadar telah dibawa emosi. Lalu dilakukan secara nyata melalui daya khayal yang bervariasi. Yaitu, bisa jadi penakut atau malah menjadi perenggut. Dan, bahagianya jika masih punya mimpi serta khayalan. Walau tak berharga seperak pun. Maka, simak tayangan jenaka bersama keluarga akan lebih mengasyikkan.
  • 14

    Mar

    Renungan Hari

    No work, no have. Itu alenia di jaket pengendara motor. Dan entah pengendara tahu atau tidak maksudnya. Saat di tanya maka mereka cuma menjawab, Au ah orang gua cuman di kasih koq?. Mungkin cukup banyak yang di perhatikan seperti itu. Mereka cuma senang jika ada yang memberi. Apalagi yang diberi bisa membuatnya nyaman. Asal jangan memberi baju Korp Pegawai Republik Indonesia atau Korpri kepada orang awam. Kemudian baju itu dipakai buat kondangan. Bisa runyam urusannya? Udara kini seakan meronta. Hawa dingin hinggap ditubuh lalu menyusup ke dalam pori-pori. Saat itu rasa lelah membebani karena dingin. Namun jika semua itu dikesampingkan maka hawa dingin lenyap beberapa saat. Tiada lelah lagi dan cuma kekuatan hidup yang membentengi. Benteng-benteng hidup ialah kemauan keras agar hidup
  • 13

    Mar
  • 7

    Mar

    Kehidupan Mimpi Yang Tersembunyi

    “istirahatlah, John. kamu sudah lelah. ngga usah dipaksain cinta itu. mimpilah dulu sebentar. sebelum kau benar-benar bisa mengejar cinta lagi” [mandor].
  • 6

    Mar

    Balutan Mimpi

    Sementara, alunan nada sendu di alunkan lewat telepon selulernya. Iramanya tak bersahut-sahutan ketika diri berada di alun-alun jantung kota. Ia memilih irama sungguh cermat walau tak sesuai dengan nada hidupnya. Sebab atau kadang-kadang nada hidup itu beragam. Ada hari ceria dan mungkin hari esok tambah riang gembira. Dan seterusnya tanpa perlu butiran kesedihan, titik. Johny masih bersila di sofa empuknya. Ia menggenggam kretek tanpa disulut nyala api. Kadang di emut lalu sewaktu-waktu di cium aromanya saja. Kemudian ia meremas kreteknya hingga tembakau berserakan di lantai yang mulai retak-retak terkikis oleh ban sepeda motornya. Mungkin ia lelah untuk bercinta, maaf? Maksud kami, mungkin ia tak berselera menikmati kretek yang agak bau tengik itu. Johny tak bisa diam memandangi pelo
  • 1

    Mar

    Maka, Itu Siapa?

    Udara lembab yang semakin sembab. Berbagai aromatik terendus oleh indera penciuman. Sewaktu-waktu mewangi, kemudian berganti busuk menyengat. Entah semilir aroma harum maupun aroma busuk. Namun jika mengenang seseorang yang di puja, maka aroma itu akan sungguh mengasyikkan. Disini ada sobat Johny. Walau cuma semenit berkenalan. Namun dapat di pastikan itu adalah, sobat dan tidak dari wujud iblis. Bercakap, bergurau atau bercengkrama tak pernah ada habisnya. Dimanapun, kapanpun. Walau mereka itu penjahat, penjabat atau pembejat sekalipun. Sobat yang baru dikenal Johny berperawakan kalem. Mahal senyum dan mahal gaya. Namun, dari kisah yang ia utarakan banyak humoris yang tertuang. Ia sering menemukan sandal atau sepatu sendal yang terjatuh dijalan. Saat orang yang diboncengi motor terti
  • 12

    Dec

    Bahagialah

    Masih pagi dan dingin. Suara-suara mangkuk bergeming. Entah, penjual bubur ayam, tukang bubur kacang ijo atau tukang tambal ban, maaf? Yang terakhir tidak pernah mengetuk mangkuk. Kecuali jika lapar atau sedang marah pada isterinya. Johny juga masih bebenah. Kemudian anak bungsunya memohon agar Johny memanggil lalu membeli suara dimaksud. Anaknya suka bubur ayam tetapi tidak suka makan bubur dengan ayam. Kini Johny berlari kecil menghampiri suara dari tukang bubur ayam itu. Johny menoleh kekanan, menoleh kekiri. Dimana tukang bubur ayamnya? Johny tetap menoleh kesana kemari. Teng-teng.. teng-teng..!! Johny pun kini mendesah. Heuhh! Ternyata bukan tukang bubur ayam. Tetapi Bang Janur sedang menyuapi anaknya. Dan Bang Janur memainkan mangkuk agar anaknya lahap makan dan tidak cengeng. T

Author

Follow Me